Recent Posts

Rabu, 05 Oktober 2011

1 komentar

MUHAMMAD DALAM KITAB SUCI INJIL

MUHAMMAD DALAM KATA SINGKATAN MISTIK DARI KITAB SUCI YAHUDI DAN KRISTIANI.

Lambang huruf 'M' dalam agama Yahudi dan Kristen.

Ada ratusan dan mungkin ribuan perbedaan antara agama Hindu, Buddha, Yahudi dan Kristen; dan mereka boleh jadi berdiri dengan poros terpisah satu sama lain, tetapi 'M' yang agung, dimana semuanya berkumpul bersama dan sepakat, adalah 'M' dari Muhammad. Dalam kenyataannya, ada tiga 'Ms' dalam Muhammad. Dalam bahasa Arab, tanda perubahan pada 'M' yang kedua, sesungguhnya adalah pengganti dari kedua 'Ms', dan karenanya diungkapkan dalam bahasa Inggris sebagai dobel M. Seperti halnya 'Om' mempunyai kepentingan dan keutamaan yang besar di antara umat Hindu dan Buddhis, dengan cara yang sama, kaum Yahudi dan Kristiani mempunyai silabus mistik mereka, yakni Maranatha, Alpha dan Omega serta Emet. Nubuatan yang diucapkan oleh seluruh nabi di dunia ini menegenai kedatangan Nabi Suci Muhammad adalah sedemikian mencolok dan jelas sehingga menolak dan tidak senang atas hal itu sama juga dengan mengingkari cahaya matahari di siang bolong. Pengharapan atas seorang yang dijanjikan dalam semua agama rupa-rupanya semakin kuat setelah Isa Almasih, sebab saat kedatangan seorang Suci telah semakin dekat. Isa telah meninggalkan para muridnya dalam keadaan yatim. Sang pengantin harus menghadapi salib pada hari perkawinannya; sehingga pesta kawin itu menjadi berantakan dan harus lari ke persembunyian dengan terburu-buru. Tak seorangpun yang memberikan mereka kenyamanan dan penghiburan. Namun kumpulan angin kebencian tak dapat menghapuskan kedip sinar kebenaran. Iman dan Pengharapan timbul di antara mereka, yang cocok dengan ramalan Isa tentang kedatangan Ruh Kebenaran yang lain. Kami akan mewacanakan hal ini dengan terinci ketika berbicara mengenai Nubuatan tentang Paraclete, yang dicatat dalam Alkitab Santo Yohannes. Sekarang, kita hanya akan memecahkan dan mengungkapkan suatu kata singkatan (silabus) mistik setelah Isa Almasih.

Bila dua umat Kristen bertemu satu sama lain, maka mereka, sebagai ganti mengucapkan salaam, maka satu sama lain mengatakan salam 'Maranatha'. Dan penyebutan silabus ini tidak saja dalam bersalam satu sama lain, melainkan juga dalam komuni Suci. Di saat mereka mencicipi anggur dan memecah roti, mereka serukan 'Maranatha' dengan suara keras. Bila mereka berkumpul untuk beribadah di malam gelap pada suatu tempat untuk memperoleh pembebasan dari rasa duka dan penderitaan, malam itu, sebagai pertanda atas pembacaan secara berkesinambungan 'Maranatha', maka mereka menyebutnya 'Malam Maranatha'. Silabus ini dipercaya oleh mereka sebagai kata singkatan yang membawa rahmat besar. Ini menciptakan dalam diri mereka suatu perasaan hangat dari semangat dan gairah hidup, dan di dalamnya mereka memegang cahaya harapan dan sukses. Berangsur-angsur, jika ada sesuatu hal pokok untuk tujuan kehidupannya, yang menjadi harapan terakhir serta terpenuhinya ramalan, maka itu adalah 'Maranatha'. Pagi dan sore mereka biasa mengumandangkan silabus ini di antara mereka. Juga, bila seorang Kristen menemukan dirinya kurang pas dan terabaikan, dia bersiap dengan seruan 'Maranatha', dan kekurang­perhatian dan kurang aktifannya seketika berubah kedalam ayunan semangat serta penuh harapan. Dalam rumah, di jalanan, dalam gereja, di kegelapan malam, dalam pertemuan harian upacara dan ibadah keagamaan, di manapun, udara berdengung dengan seruan dan getaran 'Maranatha'. Bila seorang Kristen menulis kepada saudara Kristennya, dia menutup suratnya dengan 'Maranatha', sebagai ganti upacara salam kita yakni 'Assalamu'alaikum'.

Apakah itu 'Maranatha'?

Dalam Mss, dari Westcott, Tischendorf dan Hortianus, itu merupakan kata tunggal, tetapi dalam manuskrip yang lain itu merupakan dua kata yang ditulis terpisah yakni 'Maran-ath'. Para pakar peneliti dari abad kini lebih cenderung pada pandangan bahwa ini adalah dua kata yang berbeda, tetapi para ahli berbeda pendapat mengenai titik dimana dua kata itu mestinya dipisahkan. Kebanyakan dari mereka menerima pendapat Bickell bahwa itu adalah 'Marana-tha' meskipun Schindt mengaku kata itu adalah 'Maran-atha'. Encyclopaedia Biblica(1) dan Hastings Dictionary of the Bible(2) telah membuat suatu wacana terinci atas perkara itu, tetapi segala sesuatunya cuma dugaan dan pra-anggapan serta tak ada ilmu yang benar diberikan. Perjanjian Baru mempunyai dua Surat yang ditujukan oleh Paulus kepada Korintus. Dalam Surat pertama ditulis (1:Korintus: 16:22):

 "Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia. Maranata!"

Maranatha telah ditafsirkan dengan arti 'Tuhan kita datang'. Tetapi buat kaum Yahudi itu adalah suatu silabus dengan hujatan yang paling buruk, kutukan dan dampratan; dan tidak ada kata hujatan yang lebih keras yang dipunyai mereka dibanding kata singkatan ini. Karena itu, para komentator  menghadapi kesulitan besar dalam menafsirkan baris-baris Surat Paulus di atas. Namun, suatu jawaban bisa diraba untuk keluar dari dilema ini. Dinyatakan  bahwa Paulus ingin mengatakan bahwa orang yang tidak mencintai Isa Almasih akan memperoleh pukulan dengan siksa yang paling keras, dan didoakan semoga Tuhan segera datang guna  menghindarkan pembalasannya atasnya.

Betapa pun, fakta permasalahannya adalah bahwa kaum Kristiani oada abad-abad permulaan telah ditindas dengan kejam dan merupakan masyarakat yang kebingungan. Yesus meninggalkan mereka dalam lubang, perlakuan buruk yang menyakitkan, serta penguasaan dari musuh-musuhnya melebihi yang bisa dipikul dengan darah dan air mata. Keimanan dan daya tahan mereka, dalam kondisi tertekan seperti ini, telah digetarkan dan diguncangkan supaya runtuh, namun kata-kata 'Maranatha' telah memberi mereka kekuatan hati dan pengharapan. Nubuatan ini adalah, sebagaimana adanya, suatu penafsiran atas datangnya "Penghibur yang lain", yang dibicarakan dalam Alkitab menurut Santo Yohannes. Hati mereka memetik keberanian dari pengharapan bahwa Tuhan akan datang untuk menghukum dan mencambuk para penentang serta penganiayanya. Kata-kata St.Yohannes (16:8-11) bahwa Penghibur itu, ketika dia datang, akan membalas terhadap dosa orang-orang kafir dan akan menjalankan keadilan sebagai bukti dan pembenaran atas pengharapan ini. Dan karena sebab inilah mengapa di antara kaum Kristen pada abad itu, ada getaran dan kegairahan semacam itu dalam 'Maranatha', yakni 'Tuhan kami datanglah'. Tetapi karena yang datang adalah nasib malang, maka lebih lama ada penundaan atas datangnya Tuhan, semakin kecewalah umat Kristiani yang menjadi kurang sabar. Hati mereka tertekan, kegairahan mereka mendingin dan membeku; dan slogan itu, setelah beberapa waktu, seolah kurang berguna dan tidak penting bagi mereka, dan pelan-pelan itu meninggalkan arena dan hilang. Pengantin ini yang menantikan kedatangan pasangannya dengan obor di tangannya, ketika sebagian besar malam telah lewat, terlanjur jatuh menjadi korban perpecahan dan masa-bodoh. Tetapi janji 'Maranatha', hendaknya difahami dengan jelas, telah terpenuhi dan digenapi. Tuhan telah datang, dan dia telah membalas serta membuktikan kesalahan musush-musuh Isa Almasih, dan duduk di pengadilan terhadap para penentang Kebenaran.

Nubuatan ini tidak saja diucapkan oleh Yesus Kristus, melainkan telah dinyatakan, sejak dunia di gelar, kepada segenap bangsa di dunia melalui mulut dari nabinya masing-masing. Henokh, yang oleh kaum Muslim disebut Idris, adalah seorang nabi besar generasi ke tujuh setelah Adam. Dengan mengacu kepada Kitab pengumumannya, ramalan ini telah dinyatakan kembali dalam  Surat Yudas (Perjanjian Baru) sebagai berikut:

"Juga tentang mereka Henokh, keturunan ke tujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: "Sesungguhnya Tuhan datang dengan sepuluh ribu orang kudusnya, hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadapnya". (Surat Yudas 14-16).

Nabi Henokh, atau Idris, mengumumkan dengan jelas bahwa Tuhan yang akan datang, akan datang dengan sepuluh ribu orang-orang kudusnya, dan adalah suatu peristiwa yang tak terbantah dalam sejarah, bahwa pada peristiwa futuh Mekkah, Nabi Suci ditemani oleh sepuluh ribu sahabatnya yang kudus. Selanjutnya, fakta akan kemenangan Mekkah ini membuktikan dengan nyata bahwa para penyembah berhala, terlepas dari usaha mati-matian mereka, telah ditaklukkan dan dimakzulkan, serta peradilan sepenuhnya dilangsungkan kepada para musuhnya itu atas kekafirannya.

Setelah Idris, nubuatan ini diulangi dan dinyatakan lagi oleh Musa dengan kata-kata berikut ini:

"Inilah berkat yang diberikan Musa, abdi Allah itu kepada orang Israel sebelum ia mati. Berkatalah ia: "Tuhan datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dengan sepuluh ribu orang yang kudus" (Ulangan 33:1-2).

Untuk suatu wacana yang lebih lengkap dari masalah ini, acuan bisa dilakukan atas nubuatan dari Musa ini. Kenyataan bahwa Musa menyebutkan ramalan ini segera setelah beliau mau wafat, menunjukkan  dan memperlihatkan penting dan keunggulannya yang besar. Setelah Musa, nubuatan ini diulang lagi dalam Maleakhi (3:1), akhir dari seluruh kitab Nabi-nabi Bani Israil, dari Perjanjian Lama, yang mengulangi lagi datangnya Utusan yang adalah Utusan dari Perjanjian dengan Ibrahim, mengenai berkhitan, yakni, bahwa dia adalah Utusan yang berkhitan. Yesus, sebelum keberangkatannya dari tanah itu juga mengungkapkan berita gembira akan kedatangannya (Yohannes 16:7-16). Nubuatan dari Henokh, atau Idris, juga diulang lagi dalam satu kitab terakhir dari Perjanjian Baru, yakni Surat Yudas (14-15), dan dalam bagian penutup dari Wahyu kepada Yohanes, janji yang sama atas kedatangan Tuhan juga disebut dan diulang lagi (Wahyu kepada Yohanes, 1:7, 22:12). Sekarang benar-benar jelaslah bahwa Nabi Suci Muhammad adalah Alpha dan Omega, karena kisah itu bermula dari nubuatan oleh Henokh, atau Idris, dan dengan pengulangan serta pernyataan kembali dalam Alkitab setelah mendekati akhir, dengan perkataan, yakinlah bahwa Aku segera datang, yakni untuk menyatakan, bahwa itu telah diwahyukan kepada Santo Yohanes bahwa Tuhan akan segera tiba.

Arti penting yang sesungguhnya dari 'Maranatha'.

Sekarang kita ingin mengatakan sesuatu mengenai pengertian para pakar Yahudi dan Kristen tentang 'Maranatha'. Bahwa ini merupakan kata gabungan yang berasal dari, ada yang mengatakan dua patah, yang lain menyatakan tiga patah kata, bagaimanapun telah diterima oleh segala kalangan. Tetapi mereka tetap berbeda dan tidak mufakat atas komponen yang menjadi bagiannya. Ditulis dalam leksikon bahasa-bahasa kuno (3), bahwa komponen bagiannya adalah 'Maran-a-tha', dan terjemahan yang diberikan adalah:

   "Tuhan kita datang yakni untuk mengadili".

Penafsiran ini selanjutnya disokong dan dibenarkan oleh Peshitta version of the Bible.

Leksikon yang lain menyatakan:

"Ini agaknya muncul untuk ditambahkan 'sebagai suatu kata pelindung yang berat' untuk menekankan bagi para murid pentingnya kebenaran bahwa Tuhan itu sudah dekat; maka mereka harus bersiap menyambutnya".(4)

'Maranatha' ditafsirkan dengan tiga jalan yang berbeda:

Tuhan telah datang.

Tuhan kita sedang datang (Philo., 4.5.)

Tuhan kita datang (Maranatha) (5).

Bagaimanapun, para pakar sepakat bahwa 'Maranatha' itu tidak berasal dari Aramaic, Ibrani, ataupun Yunani, melainkan ini adalah suatu istilah Syria, dan tertulis dalam naskah Syria.

Seluruh pencarian atas arti penting 'Maranatha' ini bisa disimpulkan  dan diringkas seperti di bawah ini.Dalam awal abad Kekristenan istilah ini merupakan kata yang sudah umum. Di kota dan di jalanan, di rumah dan di gereja, dalam pertemuan di malam hari, perkumpulan di siang hari, di mana saja, ada pekikan 'Maranatha' yang mengisi udara dengan suara, dan dipercaya bahwa Tuhan akan segera datang untuk menjatuhkan pembalasannya atas musuh-musuh Yesus dan kaum Kristen, serta melakukan pengadilan atas para penindas dan yang tertindas, dan bahwa dia tidak akan tanpadaya, taanpa teman, serta lemah seperti sebelumnya, melainkan akan dikaruniai kekuatan dari langit, dan datang dengan pasukan malaikat yang menerapkan  hukuman yang setimpal bagi musuh-musuhnya.

Tetapi sebaliknya kaum Yahudi mengira, bahwa 'Maranatha' adalah suatu istilah kutukan. Bangsa Mesir, Iran, Babylonian, semua telah menzalimi dan memperlakukan buruk atas bani Israil, yang adalah umat pilihan Tuhan, dengan penindasan  yang paling keras; karena itu kedatangan Tuhan bukanlah hari penuh berkah dan kasih sayang; Tuhan kita, kata mereka, adalah Tuhan yang suka melaknat dan murka, dan kedatangannya akan menjatuhkan pembalasannya terhadap musuh-musuh yahudi. Tetapi setelah beberapa lama pekik harapan dan kemenangan ini tersapu habis dari kalangan mereka, sehingga orang-orang mulai tertekan dan kecewa menyangkut kedatangan Tuhannya ini. Bagaimanapun, sebagai fakta, Tuhan telah datang, dan muncul pada saat yang telah ditentukan. Tetapi para perawan (yakni para pakar) yang menunggu pengantin ini jatuh dalam kekurang-perhatian dan kelambanan, mengantuk dan jatuh tertidur nyenyak, dan karenanya tidak dapat masuk ke rumah bersama sang pengantin.

Dalam hubungan ini, satu argumen yang menentukan dari kebenaran pengakuan Nabi Suci ialah bahwa, sebagaimana kaum Hindu dan Rishi Weda memiliki dalam 'Mamaha' nubuatan tentang M yang agung, dan dalam penarikan nafas panjang mereka mengulang-ulangi 'OM', maka kontemplasi terhadap M yang sama, dianjurkan (hal mana telah didiskusikan panjang lebar dalam halaman yang telah lalu), dengan cara yang sama, jika ada, dengan kaum Yahudi dan Kristen; Sulaiman mencintai Muhammad (6), dan di samping itu, pekik 'Maranatha' di antara kaum Kristiani. Tetapi rahasia tentang ini tidak bisa diungkap baik oleh pakar Yahudi maupun Kristiani. Karena itu, tinggallah bagi seorang pengikut yang berbakti dalam cahaya Muhammad untuk menyingkap dan membuka penutupnya.

Struktur yang sejati dan benar dari 'Maranatha' adalah Ma-ara-natha yang berarti 'Yang Agung, yang dijanjikan 'M' akan segera datang'. Karena itu, adalah tanpa guna dan sia-sia sekarang ini untuk menyerukan slogan itu. Bergeraklah di sekeliling dan tunjukkan keimananmu kepada Muhammad, Dia yang Dijanjikan, dari semua agama di dunia ini, dan lihatlah betapa dia mengutuk dan menghinakan yang menyerang Isa Almasih, dan juga menghukum serta membalas para penindas kaum Yahudi dengan hukuman yang setimpal, dan, dengan memasukkan orang-orang lain ke dalam iman Islam, telah membuat mereka mendatangkan kedamaian serta rahmat bagi para nabi Bani Israil. Berkelilinglah di jalan-jalan di Mesir dan Iran, Syria dan Babylonia, serta pasanglah telingamu ke dinding masjid dan dengarkanlah:

"Ya Allah, jadikanlah Muhammad serta para pengikut Muhammad penuh sukses, sebagaimana telah kaujadikan Ibrahim dan para pengikut Ibrahim penuh sukses".

Siapakah orang-orang ini yang bersama-sama Nabi Suci Muhammad s.a.w. memohonkan rahmat bagi Ibrahim serta anak-anaknya, Ishak dan Ya'kub, Musa dan Isa, tidak hanya sekali setahun, atau sekali pada saat bulan purnama di suatu hari khusus, melainkan lima kali sehari terus-menerus? Mereka bermohon semoga Tuhan Yang Maha-tinggi mengaruniai kedamaian dan rahmat kepada segenap nabi suci dari seluruh dunia. Inilah umat yang  tadinya merupakan musuh yang keras bagi umat Yahudi dan agamanya, tetapi yang menunjukkan keimanan kepadanya yang namanya dimulai dengan M yang agung. Dan tiada orang lain kecuali Muhammad, dimana dia juga ada dalam tiga M dari Brahma, Ibrahim serta  Gautama Buddha, yang dijanjikan oleh para nabi dan rishi. Berkahilah dia yang mencintai dan 'M' Besar yang telah diramalkan oleh mereka, serta yang memperoleh keselamatan dan pembebasan!


Alpha dan Omega dalam agama Kristen.

Seperti halnya 'Om' yang dipegang dengan penghormatan yang sangat tinggi oleh kaum Hindu dan Buddhis, dan 'Maranatha' yang seringkali memperoleh posisi yang sama di kalangan Kristiani. Dengan jalan yang sama, Alpha dan Omega adalah rahasia kaum Kristiani yang lain, dimana perbedaannya hanyalah bahwa bila menurut Upanishad, 'Om' itu berasal dari tiga huruh, a-o-m, dan dada terbuka dalam mengucapkan a, beserta suara yang dikeluarkan, lalu o diucapkan dengan angin penuh dari bagian tengah mulutnya yang dibiarkan terbuka, namun bibir ditutup ketika mengucapkan M, dan percakapan pun berakhir. Dalam hal Alpha dan Omega, Alpha adalah huruf pertama dari alfabet Yunani, dimana naskah itu mulai, dan Omega adalah huruf yang terakhir, yang menaruh segel dan menyelesaikannya. Karena itu, dua huruf ini adalah yang pertama dan terakhir, dan permulaan serta pengakhiran suatu karya disebut Alpha dan Omega-nya. Dalam teknik Yahudi yang awal dan yang akhir adalah asma Tuhan, tetapi umat Kristiani, berdasarkan Wahyu Yohanes (22:13), menyebut Yesus Alpha dan Omega. Tetapi dalam Kitab yang sama (1:8, 21:6), dinyatakan di sana sebagai asma Tuhan Yang Maha-tinggi. Selanjutnya, dalam seluruh Injil yang empat itu tidak disebutkan mengenai Alpha dan Omega ini, yang berarti bahwa, sepanjang Yesus tinggal di bumi ini, dia tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Alpha dan Omega atau yang awal dan yang akhir; dan bagaimana dia bisa berkata demikian , ketika lidah yang dipakainya berbicara, bukan bahasa Yunani. Wahyu Yohanes ditulis seratus tahun setelah Yesus; yakni, bisa kita katakan, Yesus, sepanjang hidupnya, telah lupa menyisipkan hal sepenting itu, dan ketika dia ingat seratus tahun kemudian, dia mengkomunikasikannya kepada dunia melalui Wahyu Yohanes. Namun kebenaran dari perkara itu terdapat di mana-mana. Pakar peneliti, yang telah mempelajari Perjanjian Baru dari Alkitab dengan pandangan yang kritis, telah terpaksa mengakui bahwa kitab Wahyu ini tidak ditulis oleh Yohanes yang adalah seorang murid Yesus; karena dia telah dibunuh orang-orang Yahudi pada tahun tujuhpuluh dari kalender Kristiani; dan Wahyu ini hanyalah reproduksi dari suatu Kitab suci Yahudi, sebagaimana diumumkan oleh Catholic Cyclopedia:

"Satu kitab yang sekarang nyaris dikenal secara universal oleh pakar Perjanjian Baru dari aliran yang kritis menganggap itu berasal aslinya dari karya Yahudi. Suatu penyelidikan yang hati-hati dari baris (yang berisi Alpha dan Omega), betapapun, menjadikan itu sangat mungkin bahwa keseluruhannya ditulis aslinya dalam bahasa Ibrani dengan merujuk kepada ayat dalam Daniel: Namun demikian, aku akan memberitahukan kepadamu apa yang tercantum dalam Kitab Kebenaran (Daniel 10:21).

Dalam terjemahan dari Ibrani ke Yunani, ayat 5 kehilangan hubungan seluruhnya dengan ayat 6. Dalam Ibrani di sana ada, sebagai ganti Alpha dan Omega, adalah huruf aslinya yakni, alim, mim, tau, dimana alif adalah yang awal, tau yang akhir, dan mim atau mu adalah huruf tengah dari alfabet Ibrani; dengan demikian maka silabus alif, mim, tau, dengan jalan itu, adalah yang menguasai dan mengatasi seluruh alfabet Ibrani, sebagaimana kita katakan dalam bahasa Urdu bahwa hal semacam dan semacam itu benar dan tepat dari alif sampai ya, atau dari a sampai z dalam bahasa Inggris. Orang Yahudi memanggilnya 'Emet'. Tetapi dari titik pandang lain, 'Emet' bukanlah istilah tanpa makna, ini berarti Kebenaran; dan atas alasan inilah bahwa kaum Yahudi memandang dan mempertimbangkannya sebagai suatu kata singkatan(silabus) pembawa rahmat dan permohonan anugerah. Untuk menyamakan kehadiran Tuhan  dari keabadian seluruhnya  ke seluruh keabadian seperti huruf pertama dan terakhir dari alfabet adalah sungguh suatu ide yang baik dan adil, yang juga dihargai dan dirasakan oleh kaum Kristiani. Tetapi mereka tidak dapat mengusung silabus ini dengan segala ketepatan serta kecocokannya dari tabernakel Yahudi ke Gereja Kristen, maka kebaikan dan keindahan yang ada dalam bentuk Ibraninya, hilang bersamaan dengan proses transisi dari Ibrani ke Yunani; dan mereka tidak dapat memelihara benang merah antara Alpha dan Omega dengan 'Emet', serta rahasia suci dari 'Emet' yang adalah yang awal serta yang akhir serta kebenaran yang tersembunyi dalam dirinya, telah di potong habis oleh penerjemah Kristen dengan mencoret yang di tengah Alpha dan Omega. Tetapi kaum Yahudi juga tidak terlepas atau bebas dari tanggung-jawab kesalahan. Mengumpamakan Tuhan Yang Maha-tinggi dengan yang awal dan akhir dari alfabet mendorong kepada pencari kebenaran bahwa Tuhan itu mempunyai awal dan akhir. Para pentafsir Kristen juga menghadapi perkara yang rumit dan kompleks ini dengan menyebut Yesus itu Alpha dan Omega; karena, jika Yesus itu Tuhan, maka itu tidak konsisten dengan keabadiannya kalau menyebut dia yang awal dan yang akhir; karena, dalam kasusnya  ini terdapat baik yang awal dan yang akhir. Telah ditulis dalam Quran Suci:

"Sesungguhnya persamaan 'Isa itu, menurut Allah, seperti persamaan Adam. Ia menciptakan dia dari tanah, lalu Ia berfirman: Jadi, maka jadilah ia" (3:58).

Ada perkara kelahirannya, dan hal lain yakni hadir, dan kemudian beliau wafat, juga ada. Bila dia diciptakan dari debu, bahkan melalui rahim Maryam yang suci, maka kematian itu tak bisa dihindarkan olehnya: karena dia dilahirkan, maka harus merasakan kematian.

Alpha dan Omega dalam bahasa Yunani.

Sebelum mengungkap rahasia huruf Ibrani alif, mim, tau, (Emet) agaknya perlu diceriterakan kisah Alpha dan Omega. Alpha dan Omega adalah huruf awal dan akhir dari alfabet Yunani. Sesungguhnya, Omega adalah dobel 'o' atau suara panjang 'o' dalam bahasa Inggris. Kedua huruf ini memiliki arti yang penting dalam abad-abad  awal Kekristenan, sama pentingnya seperti 'OM' dalam agama Hindu; dan ini dipercaya mengandung rahasia tersembunyi yang besar. Dalam penggalian arkeologis sejumlah besar benda-benda telah diketemukan dimana kata singkatan(silabus) ini telah ditulis  -misalnya, di batu nisan, relik kuno, benda-benda untuk dekorasi, batu-bata dinding, vas kembang, mangkuk serta pecah-belah lainnya, cincin serta benda-benda lain dari emas dan perak. Alpha dan Omega juga telah diukir pada koin dari pelbagai negeri dengan bermacam bahasa. Tetapi, setelah beberapa waktu, praktik penulisan Alpha dan Omega sebagai benda kenangan ini pelan-pelan redup dan menjadi tidak digunakan lagi, dan tempatnya digantikan oleh tanda salib. Tetapi mengapa itu bisa terjadi bahwa pentingnya Alpha dan Omega itu sekarang tak terlihat dimana-mana kecuali dalam tiga baris  biasa dalam Wahyu Yohanes? Bagaimana kegairahan ini mewujud, dan kemudian bagaimana itu mati? Jawaban atas pertanyaan ini tidak didapati dalam versi bahasa Inggris Kitab Wahyu, melainkan dalam judul bahasa Yunani Apocalypse.

Apocalypse adalah semacam kitab khusus yang ditulis dengan tujuan spesial dalam pandangannya, yakni, ketika suatu negara itu ditimpa ketidak-berdayaan dan penindasan, buku semacam itu ditulis dengan maksud menyuntikkan keberanian dan semangat kepada mereka, menyatakan bahwa hari-hari penuh kejahatan akan segera berlalu, dan hari kedatangan Tuhan sudah dekat di mata, pada saat mana para musuh akan mendapatkan hukuman yang setimpal, dan kaum beriman akan menguasai. Seluruh kisah ini, telah dinyatakan oleh Quran Suci dalam satu ayat yang penuh semangat:

"Tatkala allah berfirman: Wahai 'Isa, Aku akan mematikan engkau dan meninggikan engkau di hadapan-Ku dan membersihkan engkau dari orang-orang kafir dan membuat orang-orang yang mengikuti engkau di atas orang-orang kafir sampai hari Kiamat"(3:54).

Kitab semacam itu, yakni Apocalypse, dan janji yang memeberi harapan serta semangat kepada hati yang kecewa. Tidak jelas benar apakah adat-kebiasaan Alpha dan Omega yang muncul pada awal Kekristenan ini, yang mengilhami umat dengan keyakinan bahwa Tuhan sendiri akan segera datang; dan harapan ini dijaga tetap segar dalam ingatan mereka, dan untuk menggembirakan hati mereka yang sedih mereka bahkan mengukir Alpha dan Omega di cincin mereka serta benda-benda lainnya.

Menyingkap tabir 'Emet' dalam agama Yahudi serta 'Alpha dan Omega' dalam agama Kristen.

Dalam tulisan Yahudi dikatakan bahwa 'Emet' itu disebut 'Segel Tuhan', atau menurut Nabi Daniel, 'Kitab­suci Kebenaran' (Daniel 10:21). Dalam hubungan ini kami reproduksikan suatu tradisi kaum Yahudi, yang menyatakan bahwa beberapa orang tulus dari Kanisah telah berdoa sungguh-sungguh agar Tuhan Yang Maha-tinggi untuk melarang Setan, karena dialah akar penyebab dari segala dosa dan penderitaan, dikarungi dan dikirim keluar dari dunia. Menjawab hal ini, diturunkanlah dari langit suatu kitab berselubung dimana tertulis di situ 'Kebenaran'. Sesudahnya, seekor singa-api keluar dari kanisah dan melarikan diri. Inilah penyembahan berhala serta politeisme, yang meninggalkan bumi ini (Yoma 69). Charles Hermann menulis dalam hubungan ini bahwa sangat jelas dari rukyah ini bahwa 'Segel Tuhan' itu sesungguhnya adalah 'Segel dari Kebenaran dan Ketulusan'(7). 'Kitab Suci Kebenaran' ini adalah Quran Suci, dalam beberapa ayat ini disebut 'Kebenaran'. Misalnya, "Dan katakanlah: Kebenaran telah datang dan kepalsuan lenyap.

Sesungguhnya kepalsuan itu pasti lenyap".(Q.S.17:81).

Dan hal ini datang tepat ketika Nabi Suci setelah penaklukan Mekkah, masuk ke dalam Kakbah, beliau memukul setiap berhala dengan tongkatnya, sambil membaca ayat ini:"Dan katakanlah: Kebenaran telah datang dan kepalsuan lenyap.

Sesungguhnya kepalsuan itu pasti akan lenyap. Berhala-berhala itu pecah bekeping dan Setan, meninggalkan tempat duduknya, angkat kaki dari sana. Al-Quran adalah 'Kitab Suci Kebenaran' yang dianugerahkan ke dunia, dan dengan itu maka janji Ilahi yang diberikan kepada Nabi Daniel (Daniel 10:21) juga telah digenapi, dan berhala-berhala itu kabur melarikan diri. Peristiwa ini tidak ada bandingannya dalam sejarah dunia bahwa berhala-berhala itu bisa dihancurkan selamanya dan sepenuhnya dari suatu tempat seperti Kakbah di Mekkah, tidak, bahkan di seluruh jazirah Arab, dari mana mereka lenyap sampai masa mendatang. Seperti halnya umat Kristen yang menunggu kedatangan Tuhan, begitu pula umat Yahudi menunggu datangnya kembali Musa (Bilangan 18:15-18). Dan kaum Yahudi, juga, telah untuk masa yang lama, menjadi umat yang teraniaya dan tertindas. Setelah Sulaiman, mereka menjadi tawanan yang diperlakukan dengan kejam oleh bangsa-bangsa lain; dan karena itu, penghiburan mereka juga terletak dalam pengharapan bahwa suatu hari kedatangan Tuhan itu akan segera tiba, pada saat mana mereka aakan diberi kekuasaan serta memerintah di tanah itu, dan akan bisa membalaskan dendamnya terhadap musuh-musuhnya. Kaum Kristiani mencangkok ide Alpha dan Omega dari kaum Yahudi, dan Wahyu Yohanes dalam Perjanjian Baru hanyalah nama lain dari kitab Yahudi. Silabus Ibrani 'Emet' atau tiga huruf Alif, mim, tau, sesungguhnya adalah suatu rahasia, di mana menurut alif, pertolongan diberikan pada awal­mulanya melalui Musa, dan mereka dibebaskan dari perbudakan serta pelayanannya pada Fir'aun, dan akhirnya disebutkan akan datangnya yang seperti Musa atau Tuhan bersama sepuluh ribu orang kudus dari Bukit Paran, serta pembebasan dari kaum Yahudi. Akhir alfabet Ibrani yakni tau menunjukkan bahwa kaum Yahudi  akan memperoleh keunggulan dan kemenangan dalam ajngka panjang.  Karena itulah maka tau dipandang dan dihormati sebagai suatu kata singkatan yang suci oleh kaum Yahudi, dan mim yang terselip ditengahnya dianggap tidak penting dan berlebihan.

Masuknya secara eksplisit 'M' dalam Kitab-kitab Suci Keagamaan.

Telah dibicarakan dengan agak panjang pada halaman yang telah lalu yakni bahwa Kitab-kitab Suci Hindu yang paling otentik telah menyebut Mamaha Rishi, dan menekankan bahwa rahasia keselamatan terletak dalam 'M' sdari 'OM'. Rahasia ini telah dibukakan sekarang untuk pertama kalinya dalam sejarah agama dunia. Tak seorang pakar atau ahli pun yang telah merenungkan dan berfikir mengapa suara ma dinamakan mim; kenapa im dilekatkan ke ma dan ma dinamai mim. Mim adalah suatu huruf dalam bahasa Semit, dan im menurut tata-bahasa Ibrani adalah tanda jamak; yakni untuk mengatakan, bahwa huruf mim itu dalam dirinya merupakan kumulasi dari tiga ma, dan hanya Muhammad saja dari semua pribadi suci di dunia ini yang mempunyai tiga ma yang berakumulasi dalam dirinya. Tetapi dalam bahasa-bahasa Timur, Jamak itu ada dua macam, satu menunjukkan bilangan, dan yang lain, kehormatan serta keagungan, yang disebut dalam bahasa Inggris, jamak dari kewibawaan, sehingga ketika itu penyebutan itu dilakukan untuk orang besar, maka bukannya tunggal, melainkan jumlah jamak-lah yang diterapkan baginya. Suatu penggunaan semacam itu  yakni bilangan jamak lazim dalam bahasa Urdu, Persi, Arab serta bahasa lain di Timur. Seorang Raja, meskipun seorang diri, lazim menyebut dirinya Kami, telah umum dikenal sebagai Raja 'Kami'. Menghapus dan menyisihkan mim dari A.M.T. atau 'Emet' adalah mengabaikan mim yang agung, yang jelas merupakan blunder besar. Dalam arti penting A.M.T. dan bukannya A.T. serta M yang dikira mim yang menyelip di antara alif dan tau sesungguhnya adalah mim yang kuat-perkasa, sehingga, tanpa itu, silabus rahasia itu tidak bisa menghasilkan arti 'Kebenaran'. Umat Kristiani bertindak salah dengan menyadur 'Emet' menjadi sekedar Alpha dan Omega; dan kesalahan yang sama juga dilakukan oleh kaum Yahudi yang menyingkirkan dan menghapus mim yang vital dan hanya menampilkan alif dan tau saja. Kebenaran yang sejati, dengan jalan ini, telah ditampilkan dan tampak dengan jelas. Betapa menariknya Tuhan Yang Maha-tinggi telah menyatakan dalam Quran Suci, yang ditujukan kepada kaum Yahudi:

"Dan berimanlah kepada apa yang Aku wahyukan (kepada Muhammad), yang membenarkan apa yang ada pada kamu, dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya dan janganlah kamu mengambil harga yang rendah sebagai pengganti ayat-ayat-Ku; dan bertaqwalah kepada-Ku, kepada-Ku saja. Dan janganlah membaurkan kebenaran dengan kepalsuan, dan jangan pula menyembunyikan kebenaran, padahal kamu tahu" (Quran Suci: 2:41-42).

Memotong dan menghilangkan 'Emet' menjadi 'Et' atau 'At' itu seperti melempar debu dan menutup-nutupi kebenaran. Perbedaan di antara keduanya yakni bahwa 'Emet' berarti kebenaran dan ketulusan, sedangkan 'Et' atau 'At' tidak menunjukkan kebenaran.

Konfirmasi terakhir

Mim atau ma dari 'Emet' adalah begitu agung dan besar sehingga Seorang yang di balik nama itu dan mewakilinya telah mengumpulkan dan menggabungkan semua agama di dunia, dimana semua agama juga telah menaruh cap konfirmasi mereka atas kebenarannya. Mim yang perkasa dan agung ini telah mengumpulkan bersama-sama dua sistim agama besar, yakni agama Arya dan Semit.

Diajarkan dalam Upanishad bahwa percapakan itu dimulai dengan a, dilanjutkan dengan o, dan  tiba untuk  ditutup dengan mim atau M.

Dinyatakan dalam Alkitab bahwa alif berarti dan menunjukkan yang awal, dan tau, yang akhir atau penutup. Tetapi dengan meletakkan mim di antara keduanya, telah dijelaskan bahwa ma adalah, sesungguhnya, titik yang terakhir, mim dari kebenaran dan ketulusan.

Dalam Atharwa Weda dan Rig Weda, yang adalah Kitab-kitab Suci agama Hindu, Rishi Yang Dijanjikan itu disebut Mamah (Atharwa, Kand 20, Kuntap Sukt 127:3; Reigveda, mandal 5, Sukt 27.  Mantra 1) yang berarti 'Ma' yang agung.

Dalam kedua rujukan yang dikutip di atas disebutkan adanya sepuluh ribu sahabat dari 'Ma' yang Agung.

Dalam Alkitab Ibrani, juga, beliau disebut sebagai Ma yang Agung, dan disebutkan seorang Ma yang Dijanjikan yakni, yang namanya dimulai dengan ma, juga didapati dalam 'Emet'.

Nubuatan yang terkenal dari Nabi Henokh (Idris), yang adalah yang  pertama dari para nabi Semit dan hanya tujuh generasi setelah Adam, menyebut kedatangan Seorang yang Dijanjikan beserta sepuluh ribu orang kudus.

Fakta kedatangannya bersama sepuluh ribu orang suci selanjutnya diperkuat dan dibenarkan oleh ayat 14 dari Surat Yudas, yang merupakan argumen otoritatif untuk meyakinkan umat Kristiani.

Dalam Sanskrit Dictionary, Maonier Williams telah menyatakan, berdasarkan Kitab-kitab Suci Hindu yang berwenang, bahwa Ma berarti orang besar itu, yang namanya dimulai dengan huruf Ma.

Pengukiran Alpha dan Omega, serta 'Emet' pada cincin dalam kenyataannya mewakili hiasan dan disain dalam hati umat beragama pada waktu itu guna menghormati Dia Yang Dijanjikan.

'Emet' telah disebut sebagai 'Segel Tuhan' yang dalam realitasnya sinonim dengan Khatam al-nabiyyin yakni, Segel dari para Nabi; karena Tuhan telah mengaruniai pada setiap nabi, sejak  awal dunia ini, suatu segel untuk pengakuan atas Nabi Suci Muhammad; begitu pula beliau adalah suatu segel untuk konfirmasi terhadap semua nabi di dunia ini, dengan cara yang sama semua nabi menyaksikan dan mengakui kebenaran dari Muhammad; dan pengakuannya ini sesuai dengan Wahyu Ilahi, dan karenanya, beliau adalah 'Segel dari Tuhan'. Dan inilah sebabnya Upanishad berkata bahwa Wahyu Ulahi akan ditutup dengan Ma.

Setelah dikusi yang rinci atas susunan dan pengaturan huruf 'Emet', dan setelah menunjukkan bahwa arti istilah ini adalah kebenaran dan ketulusan, telah dibuktikan sebagai kesimpulan bahwa, bila ma itu dihapus darinya, maka kata yang tersisa yakni Et atau At tidak pernah akan bisa berarti kebenaran dan ketulusan; dan begitu pula, seperti para ahli Kristen, telah memotong 'Emet' ketika menghapusnya menjadi Alpha dan Omega; mereka telah menyingkirkan dari tangannya Ma dari ketulusan, dengan cara yang sama, kaum Yahudi setelah hanya mengambil Et atau At saja dari bentuk 'Emet', telah mencabut darinya semangat kebenaran dan ketulusan.

12. Dan ini adalah Ruh Kebenaran, yang kedatangannya telah diramalkan oleh Yesus, sebagaimana telah dicatat dalam Alkitab menurut Yohanes (Yoh.14:17). Bangsa-bangsa Eropa yang beradab yang mengaku mempunyai prinsip moral yang tinggi, namun para ahli agamanya telah menterjemahkannya sebagai Ruhul Kudus atau Holy Ghost sebagai ganti Ruh Kebenaran, dengan mengabaikan fakta bahwa 'Logos' adalah istilah Yunani untuk Holy Ghost, sedangkan di sini kata yang digunakan adalah 'Pneuma' yang berarti Ruh Kebenaran.

Teks yang telah dikutip dari Kitab Daniel menyangkut 'Emet', menunjukkan dalam istilah yang jelas Kitab mana yang dimaksud oleh teks suci berikut ini: "Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang tercantum dalam Kitab Kebenaran"(Dan.10:21).
Dan apakah yang dicatat dalam Kitab Kebenaran? "Apa yang akan menimpa kaummu di belakang hari". Yakni untuk mengatakan, bahwa dalam Kitab Kebenaran itu diputuskan nasib atau neraka yang akan dan menimpa Bani Israil di kemudian hari. Kitab Kebenaran itu yakni Quran Suci yang mengatakan bahwa menyangkut kaum Yahudi maka sampai mereka menunjukkan keimanannya kepada Nabi Suci Muhammad, mereka akan tetap demikian dan menderita akibat penolakannya atas 'Emet' yakni kebenaran dan ketulusan; karena, Nabi Suci Muhammad itu seperti Musa, dan Musa telah menyatakan kedatangan nabi yang mirip seperti dia. Jadi bukanlah suatu kejutan bahwa kaum Hindu serta yogi, dengan memanjangkan o dari OM mengatakan, sebagaimana hal itu adalah, bahwa ma (yakni orang yang namanya dimulai dengan ma), akan segera muncul, dan, dengan menutup pembacaan mereka dengan ma pada OM, menekankan bahwa ma itu sesungguhnya adalah ma dari keselamatan serta pembebasan? 'Emet' serta 'Alpha dan Omega' telah diukir dan ditulis pada cincin serta relik; dan ada seruan 'Maranatha' yakni Ma Yang Dijanjikan akan segera tiba, baik di rumah maupun di jalanan, dalam pertemuan dan perkumpulan, serta di mana-mana. Tetapi, saat dia datang, maka semua teriakan mereka itu meredup, dan gairah serta kehangatan mereka masuk ke lemari es dan membeku.

Sekarang kita mengajukan suatu argumen mahkota dan yang menentukan mengenai nubuatan atas 'Emet'. Om, 'Emet', 'Maranatha', 'Alpha dan Omega', 'Pneuma' yang dikatakan merupakan silabus mistik dari agama Hindu, Yahudi, Kristen dan Buddha, masing-masing dari mereka kehadirannya dimulai dengan huruf Ma. Buddhisme adalah sistim agama besar yang lain di dunia. Kita pada saat membuka rahasia dari rumusnya yang mendasar yakni Om mani padme hum, telah menunjukkan melalui bahasa bunga tulip dan teratai, bahwa ini juga, mengandung ramalan atas kedatangan dari Dia Yang Dijanjikan.  Tetapi nada terakhir di sana tetap tinggal tak diselidiki dan ditelaah. Dan adalah nubuatan yang terkenal dari Mahatma Buddha tentang kedatangan Dia Yang Dijanjikan, yang secara terpisah telah kita hubungkan dan diskusikan secara rinci meliputi sekitar seratus halaman, dan secara singkat dari hal itu ialah bahwa lelaki yang diramalkan oleh Buddha itu adalah 'Meiteya' yang ditulis dalam bahasa Sanskerta dan di buku lain sebagai 'Metreya'. Tetapi ini adalah istilah dalam dialek Pali yang murni; dan kami tetap memakai istilah Meteya dari sumber aslinya. Marilah kita balikkan itu untuk melihat apakah ini bukan berasal dari 'Emet' dalam bahasa Ibrani, yang berarti kebenaran dan ketulusan. Perlunya suatu tindakan semacam itu terasa berdasar alasan bahwa Ibrani adalah suatu bahasa Semit, yang ditulis dari kanan ke kiri, sedangkan Pali adalah dialek Arya, yang ditulis dari kiri ke kanan. Selanjutnya, dalam membuka teka-teki dan rahasia suatu istilah harus diperiksa juga bentuknya yang dipindahkan juga supaya bisa memperoleh artinya yang tersembunyi. Karena itu 'Emet' menurut kaum Yahudi adalah hanya perubahan bentuk yang dipindahkan (meteya).

Buddha yang paling kita hormati dalam nubuatnya menamakan Buddha yang akan datang sebagai 'Metreya'. Ini adalah suatu nama yang penuh kandungannya yang menunjukkan tiga Ma. Mereka yang terbiasa dengan terminologi Kitab-kitab Suci Hindu tahu bahwa ada seorang peramal Weda bernama 'Atrey' yang berarti 'bukan tiga' (Nirukt 3:17), karena itu Metreya berarti tiga M atau tiga Ma. Dalam seluruh Kerajaan Tuhan di bumi ini hanya ada satu dan satu-satunya seorang  nabi yang bernama tiga Ma dan itu adalah MUHAMMAD s.a.w.

Dalam agama kuno yang kita ketahui dengan nama Phrygian, mereka menghormati Ma yang sama dan percaya bahwa perwujudan dari segenap enersi reproduktif dari alam dan semangat yang besar dari tanah yang belum digali dan lembah yang kurang produktif  yakni Arabia (8).

Istilah 'Et', dalam teknik Yahudi, digunakan untuk menunjukkan semua atau seluruhnya. Seperi halnya kalau kita katakan dalam bahasa Urdu: Perkara ini sudah tepat dan benar dari alif sampai ya, maka  bangsa Yahudi akan mengatakan, dari alif sampai tau, maka dengan cara yang sama, kaum Yahudi mengatakan: Adam melakukan dosa dari alif sampai tau (yakni, Dia bersalah melakukan segala dosa);  Ibrahim mentaati Tuhan dari alif sampai tau; Tuhan mengutuk Bani Israil, atas pelanggaran mereka, dari wa hingga ma, tetapi rahmat-Nya yang Diberikan kepada mereka dari alif hingga tau; yakni sedikit kutukan dan sepenuh rahmat (Leviticus 26:14-43). Jadi arti dari 'Emet'  akan menjadi, dari awal dunia hingga akhirnya. Muhammad adalah nabi semacam itu yang merupakan gabungan dari rahmat kebajikan serta kualitas budi-pekerti yang luhur dari semua nabi, sejak awal hingga akhir, yang dibenarkan dan diakui oleh semua nabi di dunia ini, dan yang dia sendiri merupakan yang mengakui kenabian mereka semuanya. Dan inilah seluruh perkara tentang 'Emet', yakni kebenaran.

Setelah 'Emet' dari agama Yahudi kita sekarang kembali ke agama Hindu dan meminta, agar jika Ma atau OM itu bisa ditafsirkan berarti Muhammad, maka janganlah mereka itu jatuh ke dalam serangan penuh kemarahan; karena, bila Krishna, sebagai manusia, dapat menyajikan pengakuannya dalam Gita bahwa dia adalah OM, dan dia adalah Sama Weda; dan bila Buddha dan Awalokiteswara juga bisa disebut OM, maka kiranya Muhammad, Nabi Yang Dijanjikan, yang namanya dimulai dengan huruf Ma,  lebih pantas dan berharga untuk mendapatkan titel tersebut.



--------------------------------------------------------------------------------

1. Cheney, Encyclopaedia Biblica, "Maranatha".

2. Hastings: Dictionary of the Bible, art. "Maranatha".

3. Boxterf: Lexicon of Chaldian, Co.1248.

4. Alfred's Greek Testament adloe. Cyclopaedia Biblical Literature, vo.v, h.730-731,1894, New York.

5. George bautri: The Interpreter's Bible, New York.

6. Lihat  nubuat Sulaiman di bawah judul 'Solomon Muhammadin' Song of Solomon, 5:16.


7. Charles Hermann Ph.D., LLD: Catholic Cyclopaedia, New York dibawah judul Alpha dan Omega.

8. William Durant: The Story of Civilization, hal.88 (New York 1942).

1 komentar:

habibhaberer mengatakan...

How to Start a New Casino - Jtm Hub
The best way to 창원 출장마사지 begin a new 부산광역 출장안마 casino is to learn the basic strategy, and 남양주 출장안마 learn how to play the casino 고양 출장샵 game on your smartphone. 대전광역 출장마사지 In this article, I will show you

Best viewed on firefox 5+

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

Copyright © Design by Dadang Herdiana