Recent Posts

Rabu, 05 Oktober 2011

0 komentar

MUHAMMAD dalam 'KITAB ORANG MATI'

MUHAMMAD DALAM SILABUS MISTIK ‘KITAB ORANG MATI’, SIAPAKAH HORUS?

Horus, yang digambar di pusat suatu segitiga di atas penjuru Piramida Gizeh di Mesir, adalah  Matahari yang besar. Seperti halnya gambar Swastika menunjukkan bahwa itu adalah titik pusat dimana empat tangan dari Swastika bertemu atau saling menyilang. Pusat ini adalah Tuhan Yang Maha-kuasa, tak diragukan lagi, Yang keempat tangannya  digambarkan sebagai ‘putera’nya, Yang menciptakan alam semesta ini lengkap sempurna. Tetapi ada beberapa gambar, yang menunjukkan Horus sebagai orang pertama dewa-manusia. Dia adalah Matahari dan dia juga lelaki yang menunjukkan bahwa dia adalah laki­laki yang mencelupkan diri dalam warna Allah, dengan sangat khusyuk berbakti kepada-Nya. Seperti matahari sebagai cermin, demikianlah dia mewarnai dirinya dengan asma-Nya sebesar mungkin yang bisa dicapai manusia. Karena itu seluruh kerajaan Ilahi hanya satu Nabi yang dinamai Tuhan Sendiri sebagai matahari:

“Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai Saksi, dan pengemban kabar baik.  dan sebagai juru ingat. Dan sebagai orang yang mengajak kepada Allah dengan izin-Nya, dan  sebagai matahari yang menerangi” (Q.S. 33:45-46).

Sama seperti matahari yang terbit dan semua kegelapan menyingkir, begitu juga, Nabi Suci dibangkitkan kepada kenabian, kegelapan jahiliyah menyingkir dari negeri. Sebagai ganti ‘Wadd’ dan sebagainya (banteng, lelaki, singa dan elang-rajawali), diproklamirkan: “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Dan gambar­gambar dalam Egyptologi, Manusia laki-laki, Sapi, Elang dan Singa, atau Adam, Aryih, Shor dan Neshar dari Alkitab dengan benar ditafsirkan oleh Tuhan, Yang Maha-pemurah, Maha-pengasih dan Yang memiliki Hari Pembalasan, atau, dengan perkataan lain, Maha-kuasa, Maha-pengasih Bijaksana dalam kasih sayang dan Maha-adil. Ini adalah empat sifat yang paling menonjol dari Tuhan yang pada suatu saat diberikan kepada dewa dari batu tetapi sekarang direstorasi kepada Allah Yang-esa dan Maha-kuasa. Dan diproklamirkan: Ini adalah Tuhan Yang tidak berputera, dan Dia Sendiri tidak diputerakan. Dia-lah Yang Esa, tetapi ke-Esa-an-Nya tidak berarti satu dari seri bilangan. Dia bukanlah satu dari kalkulasi, karena nomor satu, dua, tiga dan seterusnya mempunyai pecahan 1/2,1/3 dan seterusnya dan sebagainya. Keesaan Tuhan ini tidak seperti kesatuan United States of America, yang terbagi terbagi dalam sejumlah states yang lebih kecil. Ke-Esa-an Tuhan menurut Islam dan orang yang rasional adalah Tuhan Yang-esa saja, tidak berputera, tak berbapak, dan tak ada ibu dari Tuhan, dan tak ada suatupun yang menyerupai-Nya yang tinggal di rumah yang cuma satu. (Q.S. Surat.112).

Sekarang tibalah pertanyaan tentang Horus sang matahari atau tuhan dari banyak bangsa di dunia. Suatu argumen yang sangat berkesan diberikan oleh Sulaiman yang agung kepada Ratu Sheba dan ini adalah peringatan yang kuat kepada Freemanson yang sangat mengagumi Sulaiman. Ya, Ratu Sheba datang mengunjungi Sulaiman. Dia adalah penyembah matahari. Karena bangsa Mesir kuno adalah penyembah matahari dan percaya bahwa matahari adalah pencipta pemelihara dan sebab pertama dari hujan dan kesuburan, maka singgasana Ratu dihias dalam penyembahan kepada matahari. Sulaiman  membuatkan baginya suatu jalanan dari kaca, dengan air mengalir di bawahnya. Ketika Ratu sampai ke jalan setapak itu dia terkejut dan gugup bagaimana caranya berjalan di situ yang mesti melewati air yang melimpah-ruah. Melihat hal ini Sulaiman berkata:

 “Sesungguhnya istana itu berlantaikan kaca yang licin” (Q.S. 27:44).

Jadi dia meyakinkannya, bahwa Tuhan itu kekuatan sesungguhnya dibalik segala bahasa simbol yang digambarkan di singgasananya.

Jadi Horus kedua, atau Ra, bukanlah pencipta alam semesta; Perancang sesungguhnya di belakang ini adalah Tuhan. Tetapi, karena dalam fenomena alam ini matahari merubah cuaca dan menurunkan hujan, cahaya, kehidupan, menjadi makhluk hidup namun sesungguhnya tunduk kepada hukum alam dan diciptakan oleh Tuhan Yang Maha-kuasa, maka, serupa dengan ini, ada satu matahari ruhani yang disebut dalam ilmu Mesir Kuno ‘Horus’. Misionaris Kristen memproklamirkan bahwa dia adalah Kristus. Kita tidak berprasangka kepada Yesus. Kaum muslim beriman kepadanya, dan mengaguminya dari lubuk hatinya. Tetapi pertanyaannya adalah: Adakah suatu klaim dalam keempat Injil bahwa Yesus sendiri mengatakan: ‘Akulah matahari alam semesta ini!’? Kata Yesus,’Akulah terang dunia’, sama dengan perkataannya yang lain,’Kamu adalah terang dunia’(Matius 5:14), dan ‘Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik’(Matius 5:16).

Dia adalah bintang timur, yang terbit di cakrawala untuk memberi kabar baik bahwa hari terang segera tiba. Bandingkan dengan Cruden’s concordance: Bintang timur, yang mendahului terbitnya matahari, diberikan sebagai rancnagan (Wahyu 2:28). Bintang sebagai  orang bijak ini adalah subyek yang banyak diwacanakan (Matius 2:2).

Matahari adalah obyek  sesembahan dan pujaan di sebagian besar dunia. Bangsa Phunisia menyembahnya dengan nama Baal, kaum Moab sebagai Shemosh, kaum Amonites dengan nama Moloch, dan Bani Israil dengan nama Baal, raja pemilik langit. Ini disembah tiga kali sehari sebagai Dewa Surya di India (1), sama dengan yang disembah kaum Majusi, sebagaimana di Mesir kuno dan di semua negeri dan agama lainnya. Ada ramalan dalam semua kitab suci, bahwa matahari yang besar akan nampak di cakrawala dunia ruhani.

“Buku Orang Mati” dari Mesir Kuno.

Suatu kitab suci kuno “Buku Orang Mati” seperti yang kita mengenalinya, tidak ditulis berbentuk aksara. Dalam studi penulisan adalah penting untuk diingat, bahwa adalah pengertian yang paling luas, ini termasuk baik tulisan ideografis maupun fonetis. Tulisan ideografis terdiri dari penggunaan lambang yang mewakili obyek yang kelihatan atau ide yang terkait dengan obyek tersebut.

Kemungkinan besar tulisan yang pertama itu benar-benar ideografis. Dalam bahasa populer maka istilah ‘menulis’ terbatas pada menulis alfabetis. Bila kita bicara mengenai tulisan Mesir kita jangan lupa bahwa dalam masalah penulisan ini berarti sesuatu yang agak berbeda dengan yang  biasa kita fahami. “Buku Orang Mati” dari  Mesir Kuno adalah lambang ideografis, arti tepat dari simbol ini sulit dimengerti.

 Perumpamaan dari bayangan khayali ini adalah: Bahwa beberapa orang dengan selera dan profesi berbeda duduk di sebuah sudut taman. Suara seekor burung mainan sampai kepada mereka. Atas hal itu seorang muslim berkata, Lihatlah di sini, bahkan burung-burung memuji Penciptanya. Mereka bernyanyi, ‘Terpujilah Yang Maha-terpuji’ ‘Terpujilah Yang Maha-terpuji’. Seorang yang lain dari kepercayaan Hindu, dia berkata: ‘Dia menyanyikan Rama, Sita, Dashrat; Rama, Sita, Dashrat. Orang ketiga, yang berkaitan dengan suatu jabatan Kristiani meng-klaim, Dia menyanyi, Matius, Lukas, Markus; Matius, Lukas, Markus. Sahabat keempat, yang menjadi pedagang besar, berteriak: tidak, dia mendendangkan, berambang, bawang, wortel; berambang, bawang, wortel. Orang kelima dari mereka yang adalah penjual rokok, dia berseru sekeras-kerasnya, Dia bersiul,’Korek-api, cerutu, rokok; korek api, cerutu, rokok.

Orang keenam yang seorang pegulat berteriak, Kalian semua salah. Dia memuji, hidup Hercules; hidup Hercules.

Seperti inilah kasus Egyptologi. Pertama dari semuanya adalah nama kitab ini. Beberapa pakar membaca namanya “PAR-M-HRU” dan menerjemahkannya PAR(datang) HRU(hari) M(dari) yakni:’Dari hari yang akan datang’. Atas hal ini Dr.Pleyte berkata: Ini salah, ini berarti ‘Memancar keluar dari hari’ dan Egyptologis Bruch Bey menerjemahkan ini ‘Kitab keluaran dari hari’. Setelah itu seorang pakar Lefedure Maspro dan Reno menafsirkannya ‘Datang memancar dari hari’. Atas hal ini James Churchward menulis dalam bukunya, “Lost Continent of Mu”(hal.108) pembacaannya seharusnya adalah “PAR-MU-HRU”, PAR(datang), HRU(matahari), Mu(yakni, Datangnya matahari Muhammad).

Saya telah memperbincangkannya panjang lebar dalam makalah ini bahwa dalam Kitab Weda, Alkitab dan kitab suci Buddhis maka silabus (kata singkatan) mistik OM, Ma-ra-natha, Emet dan Maitreya penuh mengandung ‘M’ yang Perkasa yakni Muhammad. Beberapa menyimpulkan: Ada dua ‘M’, dan yang lain mengira di sana ada tiga ‘M’ (dalam Muhammad) sesuai dengan cara penulisannya.

Nubuatan kuno lainnya yang berusia tujuhpuluh ribu tahun tentang kedatangan Nabi ‘MU’.

Suatu ramalan yang lebih antik dari nubuatan ‘Swastika’ telah disebut dan usianya ditaksir tujuhpuluh ribu tahun. Ini adalah suatu gambar simbol, bagian luarnya sebuah perisai, di bawahnya satu matahari dengan delapan pendar cahayanya serta satu lingkaran kecil, di pusatnya emblem dari kekuasaan universal. Perlambang ini bermakna, “Kerajaan matahari dengan delapan cahaya yang jatuh ke seluruh umat manusia” (The Lost Continent of ‘MU’ oleh Churchward, hal.123, New York, 1950.

Ini adalah penafsiran yang tidak lengkap dari nubuatan simbolis itu.
Silahkan membaca maknanya berikut ini dari lambang yang sama:

Pertama dari semuanya ada perisai atau pelindung, yang berarti perdamaian dan ketenteraman, yakni Islam atau wahyu yang diterima Muhammad.
Matahari dengan delapan pendar cahayanya, ada delapan huruf dari Muhammad yaitu matahari
(Muhammad) terdiri dari delapan pendar cahaya.

Nubuatan ini berkaitan dengan ‘MU’ (Muhammad).
Lingkaran kecil menunjukkan seluruh bumi.
Emblem pusat dari kekuasaan universal.
Nomor 4 dan 5 berarti bahwa kenabian ‘Mu’ itu bukannya berdasar kesukuan atau kebangsaan tertentu, tepat seperti matahari dan cahayanya yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

Nubuatan ini dipancarkan dari benua Mu yang tenggelam dan hilang di lautan Pasifik dekat kepulauan Fiji. Benua yang dikisahkan itu hilang di kedalaman lautan yang dalam tetapi dia telah menyimpan cadangannya ke negeri tetangga sebelum ditelan banjir. “Bahwa seorang nabi besar akan datang dan menerangi seluruh bumi dengan delapan pendar cahayanya (jumlah huruf dari namanya)”. Ini adalah fakta nyata bahwa kenabian Muhammad diproklamirkan dari setiap menara masjid di seluruh dunia. Ini terang benderang bak matahari.

Maka terdapat enampuluh asma dari matahari itu yang diramalkan dalam “Buku orang mati” yang dengan jelas menunjukkan kedatangan dari Nabi Islam. Misionaris Kristen secara salah berusaha memaksakan sebagian dari asma ini kepada Yesus Kristus. Meskipun simbol dan pertanda itu sebagian besarnya bersifat perumpamaan, artinya tidaklah membingungkan. Di sinilah semua dari mereka itu:

Catatan: Sebelum saya perbincangkan enampuluh aspek dari Horus, saya akui bahwa tanda dan gambar itu kebanyakan sangat sulit, maka saya tidak mengambil-alih tanggung jawab bahwa terjemahan ini pasti benar. Saya bersandar hanya pada bacaan para ahli ilmu Mesir Kuno. Saya sangat berhutang budi kepada Mr. Albert Churchward, dari Freemanson, penulis buku Sign and Symbols of Primordial Man. Kutipan ini diberikan dari bukunya.

1. Masa Kanak-kanaknya.

Dalam “Kitab Orang Mati” bab 58, Horus ditunjukkan bahwa dia dikhitan dan dengan jatuhnya tetesan darah. Khitan adalah perjanjian Tuhan dengan Ibrahim dan begitu penting dalam pandangan Tuhan sehingga, ketika Musa menunda khitanan puteranya, maka Tuhan Allah begitu marahnya, sehingga nyaris dia bunuh nabi besar itu. Lalu Zipora(isteri Musa) mengambil sebuah pisau batu, dan memotong kulup (kulit penis) puteranya dan kemudian disentuhnya dengan kulit itu kaki Musa. Sakit Musa mereda dan segera dia sembuh sehat kembali (Keluaran 4:24-26). Dan ketika bani Israil tidak menjalankan sunat, mereka tidak diberi kekuatan oleh Tuhan guna menaklukkan Tanah Yang Dijanjikan (Yoshua, 5:3). Tetapi secara kiasan khitan berarti “Berikrar hanya mengabdi kepada Tuhan Yang-esa”. Keesaan Tuhan dan beribadah kepadanya saja, adalah inti-sari ajaran Muhammad, yang tidak saja dikhitan melainkan seorang utusan yang tekun dalam menyampaikan keesaan Ilahi.

2. Ibu yang besar dengan banyak puting payudara.

Ini adalah kata-kata penting dalam Egyptologi. Nama ibu ini yalah ‘Kat’. Dan selalu dihubungkan dengan ‘Isis’ yang “banyak putingnya atau banyak susunya”(2). ‘Mekkah’ dalam bahasa Arab berarti ‘Payudara seorang ibu’. Kota ini adalah ibu dari Nabi Suci, begitu pula Induk dari semua bangsa-bangsa; karena itu nama keduanya adalah Umm al-Qura, ibu dari bangsa-bangsa. Secara kiasan, dia adalah ibu yang banyak payudaranya atau banyak putingnya, ibu sejati dari seluruh dunia (Q.S. 6:93).

3. Pada usia kenabiannya.

“Pada waktu kelahiran Horus seekor kalajengking yang sangat kuat menyengatnya”. Ada dua kelahiran dari setiap nabi, satu dari ibunya dan satu dari Tuhan. Pada kelahiran keduanya ketika Nabi Suci kita dibangkitkan kepada kenabiannya maka kalajengking (musuh)nya  sangat kuat dan menyengatnya dengan sangat parah.

4. Usia kehidupannya dinyatakan duabelas tahun.

Sesungguhnya duabelas tahun kehidupan Nabi Suci kita di Mekkah adalah keras dan berbahaya dan ada kalajengking di seluruh negeri.

5. Horus dirancang dengan ‘Semangat Benih’.

Di tengah musuh yang menyengat terus-menerus, dia akan tumbuh dengan cepat dan mantap. Agamanya seperti benih muda di tangkainya. Seperti dinyatakan dalam Quran:    



“Itulah gambaran mereka dalam Taurat, dan gambaran mereka dalam Injil; bagaikan benih yang mengeluarkan tunasnya, lalu menguatkan itu, maka jadilah itu kuat dan berdiri dengan teguh di atas  batangnya, yang menyenangkan bagi para petani” (Q.S. 48:29).

6. Dikatakan, “Dia itu kawannya ikan”.

“Maka nantikanlah keputusan Tuhan dikau dengan sabar, dan janganlah engkau seperti Kawannya  ikan, tatkala ia berseru selagi ia dalam kesengsaraan” (Q.S. 68:48).

Seperti Yunus, Nabi Suci kita pergi ke mulut gua, dan setelah tiga hari beliau keluar. Adalah suatu keajaiban besar bahwa golongan pencari dari musuh-musuhnya, meskipun berdiri di mulut gua itu, tidak melihat Nabiyullah.

7. “Pimpinan agung pemukul batu”.

Pemukul batu adalah simbol dari Freemason, tanda untuk melicinkan permukaan. Muhammad jelas adalah Pimpinan Agung pemukul batu yang memecahkan segala batu dan hambatan yang memisahkan bangsa­bangsa di dunia dan melicinkan agama dari seluruh dunia. Dengan ini, bacalah kredo Freemason:: Dalam rumah dari ‘dua kampak’(atau pemukul batu) ini akan menjadi perwakilan dari “Pimpinan agung pemukul batu” dari Mesir, sama seperti Dia yang kami temukan di Meksiko.(3)

8. “Dia Yang-agung”, “Dia Yang-perkasa”.

Pastilah ini Muhammad, yang mula pertama sendirian di tengah 60.000 musuhnya sehingga dialah seorang yang perkasa, yang agung, yang bisa mengungguli paling tidak 60.000 musuhnya itu yang menjadi kawan­kawannya dan setiap orang dari mereka sanggup mengorbankan jiwa baginya. “Seorang Perkasa dan Seorang Besar yang unik”, yang berperang melawan ribuan musuhnya, di garis depan. Dia tak pernah membunuh seorangpun dengan pedangnya dan tak seorangpun punya kekuatan untuk membunuhnya. Dalam pertempuran panjang yang berlangsung sepuluh tahun lamanya, ada 120 suhada dan hanya 150 dari musuhnya yang terbunuh sedangkan sepuluh juta mil persegi tanah ditaklukkan tanpa pertumpahan darah. Betapa seorang besar dan perkasa dia itu! Segala puji bagi Allah dan salawat bagi Muhammad s.a.w.!

9. “Seorang tuna-netra”.

Suatu masalah yang sulit, tak diragukan lagi, tetapi dalam gambarnya yang asli, Horus dilukis di depan matanya ada semak, yakni, dia tidak buta dalam pengertian sebenarnya tetapi ada semak lebat di hadapannya. Arti pentingnya di sini jelas dari lidah Quran Suci:

“Bukankah ia menemukan engkau seorang anak yatim, lalu Ia memberi perlindungan? Dan Ia menemukan engkau meraba-raba, lalu Ia menunjukkan jalan yang benar” (Q.S. 93:6-7).

Sebelum wahyu turun kepada nabi Suci maka gelap-gulita menyelimuti seluruh dunia. Nabi Suci  mencari­cari jalan untuk mengeluarkan umat manusia dari keadaan itu. Dia, dalam keadaan itu, meraba-raba di kegelapan dalam mencari cahaya. Keadaan semacam ini, dalam gelap pekat, tanpa kitab atau petunjuk yang masih asli murni yang masih tersisa. Jika ada secercah cahaya dalam suatu kitab suci, maka itu diselimuti oleh paderi dan pendeta sehingga ada kegelapan cimmerian di seluruh dunia. Adalah wajar bila manusia tidak dapat menemukan jalan keluar dalam keadaan ini. Maka di sini dinyatakan: Engkau meraba­raba di kegelapan, lalu Ia menunjukkan jalan. Inilah arti sebenarnya dari “Seorang tuna-netra”.

10. Horus Permata Emerald.

“Permata Emerald” berarti yang menghapuskan dosa-dosa dan merujuk kepada ketulusannya yang tiada tandingannya. Arti dari ‘pendar cahaya’ yakni sifat mulianya yang luar biasa. Maka hal itu dijelaskan oleh Tuhan Sendiri:

“Dan sesungguhnya engkau mempunyai akhlak yang agung” (Q.S. 68:4).

Ini juga dikatakan sebagai ‘pangeran dari Permata Emerald” yakni mempunyai akhlak yang luhur.

11. Raja dari hati.

Dalam bahasa kiasan ini adalah hati yang bermahkota, dimana ada tiga tongkat cahaya. Ini menunjukkan bahwa hatinya adalah raja dari banyak hati, satu-satunya dan raja yang unik, dimana pengawasannya tidak saja ke jasad fisik manusia melainkan juga kepada hati mereka dengan memberi cahaya ke dunia. Cahaya ini ada tiga macama, Pemeliharaan, Kasih dan Kebijaksanaan, atau seperti yang dikatakan Freemason: Kekuatan, Kebijaksanaan dan Kasih. Dalam teologi Islam adalah Quran Suci dengan kebijaksanaannya dan contoh mulia dari Nabi Suci.

12. Cahaya dunia.

Sebelum Nabi Suci kita, tidak ada konsepsi di seluruh dunia. Setiap nabi datang ke bangsa dan negerinya sendiri. Musa dan Kristus adalah untuk bani Israil dan mereka tak ada sangkut-pautnya dengan kaum lain. Dikatakan tentang Isa:

“Dan engkau Bethlehem di tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel” (Matius 2:6, Micah 5:2, Yohannes 7:42).

“Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”(Matius 15:24,10:5,6. Acts,3:25,26,13:46, Roma 15:8). Yesus tidaklah untuk sepanjang masa:   “Selama aku di dalam dunia, akulah terang dunia” (Yohanes 9:5).
Yesus berkata kepada mereka:

“Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi. Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang” (Yohanes 12:35-36).
Paulus telah memberikan alasan yang bagus untuk ini, katanya:

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu” (I. Korintus 13:11).
Sebelum itu dia berkata:

“Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap”.(I Korintus 13:9-10).

Nabi Suci adalah Alpha dan Omega dari seluruh nabi-nabi yang telah dibangkitkan di segenap bangsa di dunia, sebagaimana Quran Suci menyatakan dengan kuat dan jelas:

“Dan tiada Kami mengutus engkau kecuali sebagai rahmat bagi sekalian bangsa”
(Q.S. 21:107).

13. Horus sedang menangis.

Dalam ‘benda-benda antik Meksiko’ Horus telah dipertunjukkan sedang menangis. Ini adalah tangisan dari Hezekiah, tangisan Ayub, Daud, Isaiah, Yeremiah dan Yehezkiel, tetapi tangisan mereka adalah karena rasa takut mereka. Dan Yesus menangis atas kemaatian Lazarus. Setiap dari kita terkadang menangis, tetapi tangisan orang itu sungguh berharga bila menangisi kemerosotan pada umumnya dan dia menunjukkan kata-kata dalam tangisnya:

  “Wahai air-mataku, buatlah tangisanku demi engkau, wahai manusia!”

Seperti suatu gambaran-pena dari nabi Suci kita, di saat beliau menangis di gua Hira karena kejahatan dalam diri manusia dan mohon petunjuk demi seluruh umat, dan tangisannya yang terus-menerus ini membuat seluruh langit menangis.

14. Penghapus dosa-dosa.

Hanya ada satu rujukan dalam Lukas, bahwa Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).

Ini tidak dicatat oleh Matius, ataupun Markus ataupun Yohanes. Lebih dari itu, bahkan dalam MSS yang otoritatif, ini dihilangkan. Karena alasan ini maka ayat ini adalah palsu, tetapi mendapatkan banyak preferensi dari para propagandis. Bahkan menganggapnya sebagai asli-murni pun hanya setengah kebenaran, dengan alasan karena, dalam kutipan aslinya, “Penghapus dosa” diikuti dengan kata-kata, “Dan tali rumput” yang berarti ‘menahan dari kegelapan kepada cahaya’. Maka dalam istilah Freemason ini digambarkan sebagai tali ‘satu kabel bercabang dua’ yang berarti bahwa ‘kepercayaan mereka kepada Tuhan dan ketergantungan mereka kepada-Nya dan bahwa mereka mengabdikan dirinya kepada kehendak –Nya dan melayani-Nya’.(4) Sekarang bandingkanlah ayat Lukas tentang ‘pengampunan dosa’ yang kita perbincangkan di atas  dengan doa dari Nabi Suci. Ketika beliau terluka, berdarah-darah, kehausan dan kelaparan akibat perlakuan musuh-musuhnya di Taif, beliau tak lupa mengangkat tanagannya dan berdoa. Ini berisi permohonan pengampunan bagi mereka tetapi lebih dari itu “bimbinglah orang-orang ini di jalan yang benar karena mereka tidak tahu apa yang mereka kerjakan”. Tidak hanya pengampunan yang diminta melainkan juga “satu kabel dua tali” untuk menarik mereka keluar dari jurang kegelapan kepada cahaya. Kehangatan dalam kasus ini adalah bahwa mereka sungguh-sungguh tertahan. Mereka percaya kepadanya dan berpegang erat kepada kabel, tetapi bukan kabel dengan dua tali dari Freemason melainkan “tali Allah” yang  diulurkan dari langit yakni al-Quran (3:102).

15. Tangkai muda biji-bijian (lihat No.4).

Tangkai muda biji-bijian keluar dari mumi Horus dekat air yang mengalir, mereka mengatakan bahwa Horus mewakili sebagai pembawa keluar makanan dalam bentuk biji-bijian atau tangkai jagung  dekat suatu air terjun (5). Setelah duabelas tahun penganiayaan mereka memutuskan untuk membunuhnya. Ketika mereka melihat begitu kecilnya satu biji jagung  ada di tengah semak berduri yang kuat, tumbuh dan mengakar kuat dalam tanah berbatu semacam itu serta hari demi hari semakin kuat dan lebih kuat, mereka sepakat untuk membunuh dan membakarnya, tetapi pada saat itu biji kebenaran berkembang-biak dan tangkai jagung keluar darinya. Ini juga dekat dengan air yang mengalir, yakni wahyu yang tercurah dari langit sehingga bahkan seluruh dunia tak bisa menahannya. Inilah agama Horus yakni Islam.

16. Horus adalah Osiris dalam kelahirannya kembali.

Hijrahnya dari Mekkah ke Medinah adalah kelahiran kembalinya Muhammad, tetapi apakah ‘Osiris’ itu? Ini kata yang sangat signifikan. Ini menunjukkan ‘peradilan’. Maka kehidupan di Medinah adalah suatu pengadilan dalam pengertian yang sebenarnya. Di Mekkah, penganiayaan, penindasan, tirani, kesulitan hidup dan kekejaman sungguh melewati batas. Sekarang tibalah keadilan. Sungguh sedih kita tidak melihat hari pengadilan dalam kehidupan Yesus di dunia ini. Hidupnya berakhir dengan tragis. Tetapi dalam kehidupan Nabi Suci kita benar-benar hari pengadilan itu terjadi. Hari keadilan yang dijanjikan tiba. Kasus ini berkaitan dengan dua golongan. Kekejaman, kekerasan, intensitas dan kekuatan di satu sisi, kemuliaan, kesucian, kepolosan, bebas dari salah dan dosa di fihak lain. Osiris yang tak berdosa mendapatkan keputusan yang menguntungkan dan para penentang masuk neraka. Ini adalah hari pengadilan di bumi ini. Hari pengadilan ini telah diramalkan sebelumnya oleh semua nabi.

“Pengadilan adalah kepunyaan Allah” (Keluaran 1:17).
“Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar!” (Mazmur 1:5).
“Aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum, aku hendak bermazmur bagiMu, ya Tuhan” (Mazmur 101:1).
“Banyak orang mencari muka pada pemerintah, tetapi dari Tuhan orang menerima keadilan” (Amsal 29:26). Hidup para pemenang pada hari Keadilan!

17. Yang lebih tua!

Ada dua kelahiran dari Horus, seperti yang dikemukakan di atas. Pada awal turunnya wahyu, Nabi Muhammad tinggal di Mekkah selama sekitar 12 tahun dan setelah itu hidup di Medinah kira-kira 11 tahun. Ada dua Horus, satu yang muda, satu yang lebih tua. Tigapuluh tahun adalah bilangan yang dibulatkan dan ada kesalahan beberapa tahun dalam pencatatan, atau memang dibuat-buat ole misionaris Kristen. Ini adalah kehidupan yang berlangsung selama 12 tahun di Mekkah dan 11 tahun di Medinah yakni jumlah seluruhnya 23 tahun, tetapi dia yang lebih tua di Medinah dalam sukses dan kemakmuran. Hidup Yesus selama duabelas tahun pertama adalah di bengkel tukang kayu. Tidak seorangpun yang punya sepotong fakta yang meyakinkan selama periode ini untuk meyakinkan, namun kehidupan Muhammad di Mekkah selama 12 tahun dan di Medinah 11 tahun, yakni jumlah seluruhnya 23 tahun, adalah suatu fakta sejarah dan, lebih tua dalam usia, beliau semakin unik dalam rahmat dan kemenangannya.

18. Raja dari langit!

Ini menunjukkan jiwa yang hidup dari ‘Ra’(Matahari) di langit. Tak dirgaukan lagi, Ra adalah nama matahari di langit. Jika matahari materi itu raja di langit, maka Nabi Suci adalah raja dari langit ruhani. Atau raja dari kerajaan Tuhan di bumi sedangkan nabi terakhir dari bani Israil adalah bintang timur yang memberi kabar gembira bahwa “Matahari akan segera terbit”.

19. Raja dari dua cakrawala.

Ini berarti bahwa Horus adalah tuan atau raja dari dua dunia, dunia fisik maupun ruhani. Kewibawaan Muhammad sebagai penguasa dan sebagai nabi adalah suatu fakta yang diakui. Secara eksplisit Yesus berkata:

“Kerajaanku bukan dari dunia ini; jika kerajaanku dari dunia ini, pasti hamba-hambaku telah     melawan, supaya aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi kerajaanku bukan dari sini” (Yohanes 18:36).

20. Tuhan dari utara dan selatan.

Dalam Egyptologi tuhan dari nurtunga dan warringa, cukup jelas bahwa Nabi Suci kita tidak khusus bagi bani Ismaili seperti halnya Yesus yang hanya khusus untuk bani Israil. Sebagaimana ditekankan dalam Quran Suci, maka Nabi Suci diutus kepada segenap bangsa di dunia. “Cahayanya… bukan kepunyaan Timur dan bukan kepunyaan Barat”(Q.S. 24:35). (Peringatan! Jangan disesatkan dengan istilah ‘tuhan’ dalam kutipan di atas. Ini adalah julukan kewibawaan; malaikat dan para nabi dirujuk dalam Alkitab juga sebagai tuhan).

21. Aliran air dimana tak seorangpun manusia bisa menguras airnya!

“Wahai, Huhotep ini, yang sangat agung, aliran air dimana tak seorangpun bisa menguras airnya, karena takut aumannya”(6). Di sini adalah gambaran penuh makna dari Quran Suci. Dimana air Alkitab itu selalu dicemari dengan tambahan dan penghapusan. Adalah al-Quran yang bergema terus di seluruh jagat Islam dari sejak turunnya wahyu yang pertama hingga hari ini. Cermatilah dalam membaca kata-kata berikut dari Egyptologi dan bandingkanlah dengan firman dalam al-Qur'’n. Ini adalah suatu mukjizat yang tak bisa ditandingi: “Tuhan Yang Maha-luhur selalu menjaganya, sehingga tak seorangpun bisa mendekatinya.Akulah elang-rajawali yang akan menjaga aliran air itu selamanya”. Analogi yang mirip dengan ini adalah firman dalam al-Quran:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Peringatan (al-Quran), dan sesungguhnya Kami adalah penjaganya”(Q.S. 15:9).

“Sesungguhnya itu Quran yang murah-hati. Dalam Kitab yang dilindungi. Yang tak seorangpun dapat menyentuh itu, kecuali orang-orang yang disucikan.     Diturunkan dari Tuhan sarwa sekalian alam” (Q.S.56:77-80). Lagi, dikatakan di sana:   “Tidak, itu adalah Quran yang mulia. Dalam Loh yang dijaga” (Q.S. 85:21-22).

22. Air tuhan yang besar! (7).

Dibelakang konsepsi ini terletak suatu pemikiran yang diketemukan pada banyak bangsa primitif, dan khususnya di kalangan suku Hemitis dari Afrika, dengan mana bangsa Mesir mempunyai hubungan dekat secara etnologis maupun kultural. Raja diidentifikasi sebagai air kehidupan dan pohon kehidupan. Ini bisa ditafsirkan berarti: karena air itu merupakan sumber kehidupan, ini untuk menarik perhatian kepada persamaan yang menonjol atas kebenaran ruhani yakni bahwa hanya dengan wahyu Ilahi, yang berkali-kali dibandingkan dengan air ini dalam al-Quran; bahwa kehidupan diberikan ke dunia ini dengan Kitab-Nya yang lengkap dan sempurna; kalau tidak, mereka akan mati dalam dosa dan korupsi (kerusakan).

23. Horus sebagai kanak-kanak.

Horus kanak-kanak sebagai pembawa makanan pada saat sungai Nil pasang (8). Makanan di Mesir, tanpa ragu lagi, tergantung kepada melimpahnya aliran sungai Nil secara priodik. Begitu pula persediaan ruhani yang tergantung kepada sungai Nil spiritual yakni al-Quran. Demikianlah Mesir akhirnya diairi olehnya dan nubuatan ini karenanya tergenapi dalam pengertian yang sebenarnya.

24. Kepala dari Nomes!

Nome adalah kata Perancis, yang berarti nama alias, titel, nama samaran penulis dan sebagainya. Dalam Egyptologi ini adalah pembagian wilayah. Muhammad atau Ahmad adalah suatu nama yang unik, yang belum pernah digunakan sebelum turunnya Nabi Suci, sungguh berlawanan dengan ini, Yesus adalah nama yang biasa digunakan orang. Terdapat banyak Yesus disamping Yesus Kristus. Satu dari mereka adalah ‘Yehoshua’, seorang komandan setelah Musa.

No.25 – 27 telah didiskusikan, lihat masing-masing No.10,12,13.

28. Tuhan merah.

Tuhan merah dari bangsa Meksiko (Amerika Tengah) menghadirkan Horus sebagai dewa pembalas dari ‘Osiris’ yang menderita. Dia juga hakim yang adil dan tulus, yang menjalankan peradilannya di balai pengadilan ‘Mati’ pada hari pembalasan. Dalam Mantera bab 57, dia karenanya disebut:

 “Seorang yang adil, wahai engkau yang ahli atas dua dunia; tuhan merah, yang memerintahkan   tanda eksekusi, kepada siapa diberikan dobel, seperti Horus pada kedatangannya yang kedua”.

Tidak perlu diberikan komentar atas hal ini. Nabi Suci kita yang mempunyai dua nama, menyajikan dua masa kehidupannya. Hidup di Mekkah dan hidup di Medinah. Kehidupan di Mekkah itu adalah kehidupan Ahmad dan kehidupan di Medinah adalah kehidupan Muhammad. Muhammad itu merah sebagaimana dikatakan: Sebagai dewa pembalas dari Osiris yang Menderita, hakim yang adil dan tulus, yang menjalankan peradilannya di balai Pengadilan. Sekarang, kata Madinah berarti balai Pengadilan. Ini adalah dari akar kata ‘din’ yang berarti pembalasan atau pengadilan. Jethro, ayah mertua Musa, adalah ketua pengadilan  yang pertama dari kota ini yang mengajar Musa bagaimana mengadili pertengkaran di antara suku karena Musa sudah terlalu lelah mengurusi mereka semuanya (Keluaran 18:14-26). Ada dua nama dari ketua pengadilan masing-masing berasal dari nama kepala sukunya. Pertama adalah Yathrib yang berasal dari nama ‘Yethro’(9), dan yang satu adalah ‘Madinah’ yang berarti seorang kepala pengadilan atau balai pengadilan. Nama yang dinyatakan dalam Quran Suci adalah Syuaib sebagaimana dikatakan dalam Alkitab sebagai ‘Hobab’. (Bilangan 10:29, Hakim-hakim 4:11). Kata Madinah itu bukanlah kota yang dikira terletak di selatan Sinai Timur, tetapi ini adalah ‘Modinah’, satu kota tua yang disebut oleh Ptolomeus seorang sejarawan kuno. Modinah Ptolomeus adalah Madinah di jazirah Arab (Saya telah mendiskusikan hal ini dalam buku ini dengan judul ‘nubuatan Musa’). Penulis Alkitab dalam hal ini sungguh sangat melebih­lebihkan. Eksodus yang sebenarnya dari bani Israil sesungguhnya tidak diketahui. Maka Madinah adalah balai pengadilan dimana hakim yang benar melaksanakan keadilan. Sesungguhnya ahli-ahli Mesir Kuno salah baca sebagai ‘Mati’; yakin itu adalah Madinah.

29. Kunci pengikat Horus.

Kuncinya bukan dari besi melainkan rambut. Keindahan pengikat rambut Nabi Suci kita didendangkan oleh Sulaiman dalam Kidungnya:

“Bagaikan emas, emas murni, kepalanya, rambutnya mengombak, hitam seperti gagak” (Kidung Agung 5:11).

“Bagaikan merpati matamu, di balik telekungmu….

Bagaikan belahan buah delima pelipismu, di balik telekungmu” (Kidung Agung 4:1-3). Rambutnya yang bergelombang, bak malam keperakan. Membuat bahunya bercahaya redup. Rambut Nabi itu berombak, dan tidak lurus tergantung; rambutnya lebat namun tak terlalu rapat. Seringkali dikatakan bahwa rambutnya ini mencapai daun telinganya. Rambutnya hitam. Di janggutnya dan ikatannya hanya ada 17 rambut abu-abu dan tak pernah lebih dari itu.(10). Sebagaimana digambarkan dalam “Kitab Orang Mati”, demikianlah ikatan rambut Nabi. Tetapi apakah arti ikatan rambut ini dalam bahasa  kiasan? Ini adalah nazar untuk hidup suci, murni dan mulia, secara positif menghindari anggur dan segala jenis minuman keras serta menjaga diri dari kesenangan duniawi (Bilangan 6:1-5).

30. Horus dalam bentuk elang atau rajawali.

Dinyatakan bahwa Horus adalah elang berKepala Emas (bandingkanlah dengan Kidung Agung, 5:11) dan Horus menghadapi Sut(Setan) dalam bentuk seekor elang (11), dan membunuhnya, sebagaimana dinubuatkan dalam Alkitab: ‘Ini akan meremukkan kepalamu’(Kejadian 3:15), yakni, tuhan perdamaian akan meremukkan kepala ular naga (Setan) (Roma, 16:20, Wahyu 12:8-9), tetapi Setan akan meremukkan tumit orang-orang jahat. Sesungguhnya Nabi Suci telah bersabda: “Setanku bukan setan lagi”. Agak berlawanan dengan ini, dicatat dalam Alkitab bahwa Setan empatpuluh hari bersama Yesus dan menggoda dia (Markus 1:12-13); dia tidak meremukkan kepalanya, tetapi, sebaliknya, Setan merasuki Yudas (Lukas 22:8), dan Petrus (Matius 16:28), dan memberi kekuatan kepada musuh-musuhnya untuk menyalib Yesus.

31. Horus dalam bentuk seekor burung.

Rajawali atau elang mewakili Horus, dan gagak adalah simbol Sut (12). (Lihat no.30).

32. ‘Horus sebagai Har-Machus’, berarti kapak dobel atau pemukul batu (Lihat no.6).

33. Horus pada usianya yang kedua belas tahun. (lihat no.2 dan 28).

34. Horus pada usianya yang ketiga puluh tahun (lihat no.28).

35. Horus sebagai seorang mumi (Lihat no.15).

36. ‘Horus sebagai satu ruh yang besar’. Ini dalam ‘Kitab Orang Mati’ bab 78.

Dia adalah ruh yang hidup dari Ra (matahari di langit). Dia adalah satu-satunya dari ruh besar yang dilahirkan dari ibi 'T‘juh ruh besar’, identik dengan tujuh nabi besar yang menubuatkan kedatangannya.

37. Saya merantai Sut (Setan) (Kitab Orang Mati, Piring no.5).

Sut atau setan dirantai di dunia bawah. Adalah kenyataan bahwa dia dirantai di Arabia, yakni seluruh negeri Arabia disucikan dari penyembahan berhala, miras, dan kejahatan lain-lainnya. Suatu fakta unik yang tidak pernah terjadi dimanapun dalam sejarah kemanusiaan.

38. Ibu besar menyusui Horus.

Kata-kata ini sangat signifikan, dalam Egyptologi nama ibu itu adalah ‘Kat’ dan dia selalu dihubungkan dengan ‘Isis’. Mekkah dalam bahasa Arab berarti susu ibu. Makkah sebagai ibu dari bangsa-bangsa juga ibu dari Nabi Suci, dia yang menyusuinya segera setelah kelahirannya. Dengan wahyu Makkiyah kita menunjukkan bahwa wahyu itu diturunkan di Mekkah. Kelahirannya ini adalah kelahiran kedua atau kelahiran spiritual menunjukkan bahwa Ruhul Qudus datang kepadanya, dengan perkataan lain suatu kelahiran dari Tuhan. Islam, atau wahyu Ilahi, diperlakukan buruk oleh Sut (musuh). Dus ini digambarkan sebagai kalajengking besar, yang menyandera Isis dan Horus, yakni ibu dan anak, sebagai tawanan di sebuah rumah, tetapi dengan pertolongan Jibril, yang dalam Egyptologi disebut Thoth, dia meloloskan diri dengan anaknya, menurut teks Egyptian. Seperti telah diterangkan, Mekkah dalam tempat pertama mewakili Islam, yang melahirkan Nabi Suci kita. Dalam permulaan Islam dan anaknya, yakni Nabi Islam, dianiaya oleh kalajengking atau musuh-musuh Islam, tetapi, setelah itu, dengan pertolongan Jibril, Islam dan Nabi Islam keduanya lolos, dalam fraseologi Mesir.

39. Horus sebagai satu dari tujuh ruh besar.

Tujuh bintang di langit menunjukkan bintang-penunjuk, dan bintang ini adalah titik tetap di langit, yang memberikan petunjuk sejati kepada pengembara. Ini diperkuat oleh Quran Suci:

“Dan tanda-tanda batas. Dan mereka menemukan jalan yang benar dengan bintang-bintang”(16:16).

Sebagaimana tujuh bintang di langit menunjukkan jalan yang benar, demikian pula tujuh Rishis atau nabi, yang membimbing setiap pencari kebenaran kepada bintang petunjuk ruhani yang abadi posisinya di langit ruhani yakni Muhammad, akhir dari para nabi. Tujuh nabi besar ini adalah Nuh, Ibrahim(Brahma), Musa, Daud, Buddha(Dzulkifli-Pent.), Sulaiman dan Yesus(Isa-Pent.). Ini semua jelas meramalkan kedatangan Nabi Suci kita.

40. Horus sebagai bintang-penunjuk.

Dalam mitologi, bintang-penunjuk adalah emblem yang menunjukkan stabilitas, suatu pengaturan singgasana kekuasaan. Ini disebut Anup atau Horus dalam Mesir Kuno, Sydek di Phunisia, ‘An’ di Babylonia, Ame-No-Foko-Tachi-Kami pada bangsa Jepang. Agak paralel dengan mitologi Mesir ini; tertulis dalam Rig Weda bahwa “vishai karman berdiam di Utara tertinggi dibawah tujuh Rishi”(Rig Weda 10:82:2). Horus dari Mesir dan vishai karman yakni Aditya(matahari) adalah persamaan nama. Vishay karman adalah Aditya, yakni matahari (Nirukt.10:26). Vishai karman ini dinyatakan dalam Rig Weda mengabdikan dirinya semata-mata kepada Tuhan Yang Maha-kuasa, dan ini dinyatakan dalam Quran Suci:

“Katakanlah: Sesungguhnya salatku dan pengurbananku dan hidupku dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan sarwa sekalian alam.Ia tak mempunyai sekutu. Dan ini diperintahkan kepadaku, dan aku permulaan orang yang berserah diri” (Q.S. 6:163-164).

‘Aku permulaan orang yang berserah diri’ paralel dalam Rig Weda sebagai “prathmach-had vram”, “Yang pertama menyembah atau memuja atau yang pertama berserah diri” (Rig Weda 10:81:1). Setiap orang dari kita mengetahui bahwa bintang-penunjuk ada di langit tertinggi di Utara. Tujuh Rishis atau Pembawa yang Besar menunjuk kepada bintang-penunjuk. Dalam seluruh dewa mistis bintang-penunjuk adalah simbol dari stabilitas, (namanya dalam Sanskrit adalah Dhruv yakni tetap dan stabil) suatu tempat kedudukan dan singgasana kekuasaan, yakni dewa tertinggi (tuhan/dewa  sebagai istilah kewibawaan dan kehormatan). Ini berarti ‘Horus’ dan Horus adalah prototype dari matahari atau, lebih tepatnya, “matahari yang akan tiba”, yakni Nabi Suci Islam, sebagaimana saya telah sebutkan sebelumnya. Tetapi bintang-penunjuk ini adalah emblem dari stabilitas, seperti bintang yang tak pernah tenggelam. Bintang-bintang lain berubah posisi dan tenggelam, tetapi bintang-penunjuk selalu dalam kedudukan yang tetap atau di atas cakrawala Utara. Aspek ini adalah tanda-bukti dari kenabian nabi Suci kita, yang tak pernah berubah, tak pernah hilang sedikitpun, selama dan selama-lamanya stabil dan teguh laksana bintang-penunjuk. Nama lainnya dalam Egyptologi yakni Anup suatu kata biasa dalam Sanskrit dan Egyptologi yang berarti sebatang pohon dekat air; anda boleh menyebutnya senantiasa hijau. Ini adalah suatu subyek yang sangat luas sehingga satu buku bisa ditulis untuk perkara itu saja. Seluruh surat 53 dari al-Quran berisi subyek perkara ini atau suatu ringkasan darinya. Di sini saya akan tunjukkan hanya satu ayat saja dari surat itu: “Demi bintang tatkala terbenam” dari bukit menurut Egyptology, atau sesudah pendakiannya menurut beberapa muslim dan tafsir dari Imam Jafar. Dengan bintang yang dimaksudkan adalah Nabi Suci, yang turun dari bukit serta membawa pesan bagi seluruh kemanusiaan.(Dalam fraseologi Freemason, bintang-penunjuk adalah semacam keabadian, karena, jelas, dia tak pernah berubah dengan berjalannya waktu. Ini adalah simbol yang paling awal dari keunggulan kecerdasan, yang memberi hukum di langit, suatu titik patokan di langit bagi fikiran manusia untuk menggantungkan dirinya dari titik pusatnya ke pinggiran, satu titik dalam lingkaran dari mana kita tak bisa meleset lagi.(13). Mata di puncak bukit atau titik di tengah lingkaran adalah sejenis ‘Anup’, dan hukum yang paling awal di langit itu diberikan di puncak bukit, karena puncak bukit itu bayangan dari penunjuk, dan ‘Anup’ menata hukum sebagai hakim). Kata-kata dalam Quran Suci adalah sebagai berikut:

“Kawan kamu tidaklah sesat, dan tidak pula menyimpang. Dan ia tak berbicara atas kemauan (sendiri). Itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan” (Q.S. 53:2-4).

Dan ayat berikutnya. Bintang-penunjuk adalah semacam keabadian (atau Nabi Suci pada peristiwa itu sedang dalam tekanan).

“Lalu ia mendekat, dan bertambah dekat lagi,    Maka ia berjarak dua busur atau lebih dekat lagi”(Q.S. 53:8-9).

Dan dia mewahyukan:”Dan Dia di cakrawala yang tertinggi, yakni serupa dengan bintang-penunjuk, dan ukuran dari busur, menunjukkan kedekatannya”.

Ringkasan dari semua ini adalah:

Bintang penunjuk adalah lambang dari ‘Horus’ atau Nabi Suci kita, dia menjadi pelayan Tuhan atau terbebas dari pelayanan kepada semua yang lain. Pendakiannya atau ditariknya dia ke dekat Tuhan berarti menerima wahyu atau hukum. Dan ini terjadi di bukit Hira, dimana dia menerima wahyu pertamanya.

41. Horus menjadi penguasa tanah.

Pewarisan dari bumi sekarang diberikan kepada ‘Horus’. Dia memakai dua mahkota yakni sebagai penguasa dari dua bumi; dia sekarang berayun pegangannya bagi dua bumi atau sebagai pemersatu dari dua cakrawala. Rumahnya adalah gabungan dari dua bumi (14). Tidak perlu berkomentar atas hal ini. Sebelum Nabi Suci, ada dua bumi, Utara dan Selatan, atau Timur dan Barat. Nabi-nabi dibangkitkan di setiap bangsa, baik di Timur maupun di Barat. Tetapi Nabi Suci kita adalah penguasa dari kedua dunia, rumahnya adalah bagi yang di Timur maupun di Barat atau bagi yang di Barat dan di Timur, karena dia adalah pusat, pemersatu dari kedua cakrawala.

42. Pertempuran di antara ‘Horus’ dan Sut (Setan).

Ada peperangan di antara Horus dan Sut(Setan). Sut merubah dirinya dalam bentuk ular naga, Horus mengangkat tongkatnya untuk membunuhnya. Sut masuk ke sebuah lubang. Maka Horus dengan tongkatnya mengawasi lubang itu. Ini adalah suatu kenyataan sejarah bahwa, sebelum dibangkitkannya Nabi Suci kita dalam kenabiannya, Sut adalah penguasa jazirah Arab. Ketika Nabi Suci dibangkitkan, ular naga  masuk ke lubang. Maka kini tongkat (al-Quran) mengawasi lubang itu, dimana kalau ada al-Quran, maka Setan tetap di lubangnya.

43. Horus mempunyai dua ibu.

Satu Isis perawan tanpa dosa, yakni dalam arti harfiah adalah Aminah, ibu dari Nabi Suci kita. Ibu kedua dari Nabi kita adalah Halimah, yang menyusui Nabi Suci kita. Secara kiasan, Nabi Muhammad pertama adalah putera Aminah, yang suci dari dosa, disusui oleh Halimah, yakni Yang-penyayang.

44. Para pengikut ‘Horus’.

Ada tertulis bahwa pengikut Horus menyerbu negeri, menaklukkan pribuminya, menetap di sana, dan membangun dinasti kebudayaan besar yang kita sebut Egypt (Primordial Man, hal.63). Sekali lagi, nubuat ini digenapi kata demi kata dalam pribadi para pengikut Muhammad. Ini adalah mukjizat kehidupan Muhammad dan para pengikutnya yang menakjubkan. Saya berdoa semoga Egypt sekali lagi akan bangun sebagai suatu peradaban yang besar.

45. ‘Horus’ adalah kebangkitan dan hidup.

Dalam Egyptologi ‘Ptah-saker-Ausar’, yakni, ‘Tuhan sejati dari kebangkitan’. Penderita yang diam, seorang yang berselubung, adalah dewa, yang membuka dunia bawah untuk kebangkiatn dalam mitos matahari yang permulaan (Ibid. hal.404). Dalam kutipan ini seringkali kata tuhan dan dewa digunakan, tetapi harus dicatat bahwa kata-kata ini hanya digunakan sebagai kewibawaan dan keagungan. Tak diragukan lagi bahwa di belakang hari bangsa Mesir menjadi penyembah berhala, tetapi pada permulaannya kebudayaan ini adalah monoteis. Albert Churchward menulis: “Bangsa kuno ini, pada masa Eskatologi mereka, tidak pernah menyembah binatang atau burung atau ular naga sama-sekali, dan adalah kesalahan besar kalau menganggapnya demikian” (hal.401). Maka ‘Horus’ adalah kebangkitan atau dewa kebangkitan, dan ini menunjukkan bahwa bangsa Arab dan Mesir sebelum Nabi Suci itu mati. Mereka tidak mempunyai kehidupan. Nabi Suci memberi mereka hidup, atau dalam istilah Alkitab dan al-Quran: Dia membangkitkan yang mati atas perintah Tuhan, dengan membacakan wahyu Ilahi kepada mereka. Mereka itu secara ruhani sudah mati, karenanya dia membangkitkan mereka secara ruhani.

46. ‘Horus’ sebagai ‘Pangeran perdamaian’.

Suatu terjemah harfiah dari kata ‘Muslim’.

47. ‘Horus’ sebagai singa.

Singa adalah simbol keadilan dan keberanian. Makna keadilan yang dimanifestasikan oleh Islam dan Nabi Islam tidak bisa diketemukan dalam suatu agama, bangsa atau negara  yang lain di dunia. Keadilan itu membutuhkan persatuan dari seluruh ras manusia. Ada bermacam-ragam hukum di seluruh dunia, dan hukum itu, selalu bisa berubah. Sedangkan keadilan itu stabil dan permanen selamanya. Hukum Amerika Serikat untuk bangsa Amerika, Inggris untuk bangsa Inggris, sedangkan hukum Islam itu universal dan manusiawi, mengatasi segala batasan ras, warna kulit, atau tapal batas wilayah. Suatu contoh dari hukum Kristen bisa disajikan di sini:

“Tetapi aku berkata kepadamu…siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Matius 5:22). Di sini hakim melebih-lebihkan kejahatan. Seorang kawan tertentu menyebut orang lainnya jahil di depan umum. Yang belakangan mendakwa yang pertama. Hakim mendendanya USD.10. Orang itu membayar dendanya dan kemudian minta salinan dari hakim atas vonisnya itu. Hakim bertanya:”Buat apa? Engkau toh telah mengaku”. Dia menjawab:”Saya menginginkan itu untuk minta banding kepengadilan tinggi sehingga majelis tinggi juga bisa mengetahui bahwa dia jahil”.

Dalam Perjanjian Lama tak ada keadilan diantara orang Israil dan non-Israil. Dalam Hukum Hindu tak ada keadilan dari kasta Brahma dengan orang non-Brahma. Tetapi di dunia ini anda akan dapati keadilan dalam Islam dan dalam dekrit dari Nabi Islam. Arti kedua dari kata singa adalah keberanian. Dan hal ini dinyatakan dalam Quran Suci berkaitan dengan para musuh Nabi Suci:

“Seakan-akan mereka itu keledai yang ketakutan. Yang lari dari singa” (Q.S.  74:50-51).

48. ‘Horus’ sebagai dewa penyembuh.

“Obat bagi apa yang ada dalam hati” (Q.S.10:57).
“Katakanlah: Itu bagi orang-orang yang beriman adalah petunjuk dan obat” (Q.S. 41:44)

Di sini al-Quran disebut penyembuh karena ini adalah obat bagi penyakit ruhani yang meraja-lela di dunia.
Ini Kitab yang membuktikan dirinya sebagai penyembuh, karena dia mendapati suatu negeri yang
dipengaruhi oleh penyakit spiritual dan moral yang paling buruk dan kurang dari seperempat abad seluruh bangsa dan negara bisa dibersihkan dari seluruh penyakit ini. Betapa pun, pengaruh penyembuhannya, tidak saja terbatas di jazirah Arab, dan kini tak ada satu bangsa di permukaan bumi yang tidak berdiri saksi atas besarnya kekuatan penyembuh dari al-Quran, yang begitu sangat jauh jangkauannya sehingga bahkan kaum non-muslim bisa sama-sama memetik manfaatnya.

49. ‘Horus’ sebagai ‘Pembaptis’.

‘Horus’ sebagai Pembaptis dengan api (di dalam tanki yang menyala-nyala). Jelas bahwa baptis dalam agama Kristen itu dengan air, tetapi Nabi Suci membaptis dengan peperangan, yakni api. Ini adalah menyalanya pengurbanan hidup yang diberikan oleh para sahabat Nabi Suci.

50. ‘Horus’ dengan ‘Tat’.

Adalah salah menyatakan bahwa ‘Tat’ itu berarti salib; ini adalah akhir huruf dari alfabet. Di sini menunjukkan nabi yang terakhir.

51. ‘Horus’ bersama Ibunya selama duabelas tahun.

Ibu pertama Nabi Suci adalah Mekkah atau setelah diangkat dalam kenabiannya belaiu tinggal di Mekkah selama duabelas tahun.

52. ‘Horus’ sebagai anak seorang perawan.

Tidak seorangpun dapat membuktikan dengan akalnya bahwa seorang anak tertentu itu dari perawan dan tak seorangpun bisa yakin bahwa anak itu dari seorang perawan kecuali ibunya sendiri. Tetapi setiap orang bisa menyadari bahwa jazirah Arab adalah suatu tanah perawan, sebelum Nabi Suci tak ada nabi yang dibangkitkan di Arabia. Karenanya inilah satu tanah perawan yang mengeluarkan manusia yang sangat luhur itu.

53. ‘Horus’ dibawa oleh Setan.

Ini adalah interpolasi atau rekaan misionaris Kristen bahwa ‘Horus’ dibawa oleh Setan ke gunung. Telah disebut diatas bahwa ‘Horus’ meremukkan kepala ‘Sut’(Setan). Itulah yang dilakukan Muhammad.

54. Horus meluhurkan Tuhannya di segala tempat.

Pastilah ini yang diamalkan oleh Muhammad. Yesus bahkan tidak tahu nama Tuhannya (lihat perbincanagan kita pada nama Yehovah).

55. Horus sebagai Bunga teratai.

Inilah ramalan Buddha mengenai Nabi Suci kita. Teratai adalah lambang kesucian dari dosa. Demikianlah Nabi Suci kita adalah murni dan suci seperti teratai (lihat catatan komprehensif mengenai hal ini dalam silabus mistik dari Buddhisme).

56. Horus datang menggenapi hukum.

Adalah Islam dan Nabi Islam yang menggenapi hukum. Kaum Kristen menghapus dan merusak hukum, dan menjadi ‘Antinomian’.

57. Horus masuk ke gunung.

“Horus masuk ke gunung pada waktu matahari terbenam untuk berwawan-sabda dengan Tuhannya”. Ingatlah Muhammad di gunung Hira.

58. Horus dari segitiga.

Adalah dalam wahyu kepada Nabi Suci kita bahwa Tuhan Yang Maha-kuasa itu mempunyai tiga asma yang menonjol. Pembimbing dan Pemelihara (Rabb), Maha-pemurah (Al-Rahman), Maha-pengasih (Al-Rahim). Ketiga asma inilah yang menjadi penyebab tunggal dari penciptaan.

59. Horus sebagai seorang gembala yang baik dengan lengkungan di bahunya.

Yesus tak pernah menjadi gembala. Dia seorang tukang kayu. Sesungguhnya adalah Muhammad yang menjadi penggembala itu.Dalam bahasa kiasan beliau sangat mencintai para sahabatnya. Beliau tak pernah bersabda kepada salah-seorang pun dari mereka:

“Enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagiku”(Matius 16:23, Yoh.13:2, 27, Mat.14:25,26). Hanya dari duabelas murid terpilihnya saja ada dua yang terpengaruh Setan, karena Petrus mengingkari Kristus tiga kali, dan Yudas menjual tuannya hanya untuk 30 keping (Lukas 22:3, Yoh.13:2,27. Mat.14:25,26). Para sahabat Muhammad lebih menyayangi Tuannya daripada jiwanya sendiri.

60. Horus berjalan di atas air.

Nabi Suci kita tidak pernah mengklaim seni magis semacam itu. Dia berjalan bersama Tuhan sepanjang hidupnya dan tak pernah tergelincir. Air itu berarti rencana Ilahi dan inilah arti sebenarnya dari berjalan di atas air; dan beliau  membuat para muridnya mengikutinya dengan sikap yang sama.

Kesimpulan

Ringkasan dari seluruh ideografi Mesir kuno ini ialah: Piramida besar dibangun di Mesir sebagai monumen dan memorial yang awet dari agama awal yang berkembang 6000 – 7000 tahun yang lalu oleh ilham Ilahi berdasarkan ilmu hukum dan pengetahuan sejati dari hukum alam semesta. Sungguh sekarang kita bisa melihat Piramida besar yang mengungguli segala yang lain yang pernah dibangun. Rahasia kuno telah digambarkan secara simbolis di batu-batu, dan bisa dibaca oleh mereka yang memperkenalkan rahasia misteri agama. Dalam ‘Kitab Orang Mati’ dan dalam tanda-tanda di Piramida ada secara singkat namun suatu fakta yang mencerahkan mengenai datangnya kehidupan seorang Guru Dunia. Tanda-tanda ini tak perlu menyebutkan namanya; dialah ‘Horus’ matahari yang besar, matahari yang bercahaya, dan tidak perlu dibuktikan dengan logika. Symbol yang diam initelah memancarakan keindahan dari pribadinya. Swastika, Gemmadion, empat gamma dan fylfot, itu synonim, yang berarti:

Hari-hari yang penuh kegelap-pekatan akan segera berlalu.

Suatu matahari yang memberi cahaya akan menerangi jalan.

Di pusat dari Swastika di sana bersinar nama ‘Horus’ yang berarti matahari besar. Horus dikhitan dan tetesan darah jatuh. Tetapi apakah sunat ini? Secara kiasan ini berarti menyucikan secara spiritual. Seperti yang anda lihat, matahari tidak pernah meninggalkan hukum tetapi selalu mentaati hukum dari Tuhannya dengan berserah diri, maka begitu pula dia yang akan datang akan dikhitan baik fisik maupun spiritual. Kata ‘bersunat’ seringkali digunakan untuk membedakan monoteis dengan politeis. Duabelas tahun (setelah kenabiannya) akan dilewati di tengah kalajengking. Dia adalah tangkai muda jagung yang selalu bertumbuh di tengah semak lebat yang berduri tajam. Dia menangis, dan air matanya mebuat langit menangis, maka hasilnya adalah kegembiraan, seperti pepatah: Siapa yang menanam tangis akan panen kegembiraan. Ini akan menjadi pedoman bagi seluruh kemanusiaan yang berdiri di kegelapan selama ratusan tahun. Dia adalah ‘pemimpin besar dari pemukul batu’ yang akan memecah semua hambatan dan batu, dan meratakan gunung-gunung yang membagi kerajaan Tuhan. ‘Dia adalah yang menderita dengan diam’. Dia tak pernah mengutuk musuhnya (bahkan kepada pohon yang tak berdosa). Tidak, lebih dari itu, dia selalu mendoakan mereka. ‘Pangeran keabadian’. Seperti halnya matahari yang selalu menyinari bumi, begitulah tak ada akhir dari kenabiannya. ‘Dia adalah permata emerald’, yakni penghapus dosa. Seorang pemberi semangat keberanian dengan akhlak yang luhur. ‘Pangeran dari hati nurani’. Dia adalah seorang pemaaf yang agung. Tidak, lebih dari itu, dia adalah satu kabel penarik untuk mengangkat bangsa yang jatuh. ‘Dia mempunyai dua ibu’. Banyak orang mempunyai dua ibu. Tetapi dia mempunyai satu ibu bernama Aminah (yang tak berdosa) dan Halimah (penyayang) yang menyusuinya dengan kasih-sayang dengan perilaku yang luhur. Karena dua ibu ini juga merupakan ibu dalam arti kiasan. Satu dewa-air. Pemilik Al-Kauthar (kemurahan yang berlimpah-ruah). Al-Quran adalah persediaan yang berlimpah-ruah dari air samawi yang diwahyukan di manapun di bumi ini.

‘Tuhan-merah dari keadilan’. Dia adalah singa bukan kambing dari Nazareth. Dia adalah elang  rajawali dan bukannya merpati dari Bethlehem, tetapi dia yang perkasa, yang bijaksana.
Dia merantai setan di dunia bawah.
Dia adalah kehendak tujuh nabi besar, yang meramalkan dia.
Dia adalah bintang-penunjuk dari stabilitas.
Dia akan memakai dua mahkota. Sebagai seorang anak yatim di tengah musuhnya yang kuat dia
menegakkan kerajaan dan dimahkotai sebagai seorang nabi besar.
Penganutnya menaklukkan dan menjadi pendiri suatu peradaban baru.
Pangeran kebangkitan. Seorang yang membangkitkan seluruh bangsa (tidak hanya beberapa orang seperti Yesus).
Pangeran perdamaian. Dia membangun dan meletakkan landasan bagi agama perdamaian (Islam) di bumi ini.
Pembaptis dengan api (dengan peperangan) dan bukan dengan air.
Ia berjalan di atas air. Air berarti hukum. Maka ini adalah hukum Tuhan bahwa Nabi Suci itu berjalan di atasnya tanpa takut dan para sahabatnya juga berjalan di atas air dan mengikuti dia.
Dia adalah pangeran dari dua cakrawala. Bukan hanya seorang gembala dari bani Israil yang hilang.
Wahyunya (al-Quran) adalah aliran air yang kuat dan mengaum. Tak seorangpun yang bisa menyentuhnya dengan tangan yang kotor (Q.S.56:79). Ini bukanlah aliran sungai Yordan yang masuk ke Laut Mati dan menjadi bahan yang ditambahi atau di kurangi; dia adalah untuk jangka lama dan selama-lamanya.
Pembawa kesejahteraan (Swastika) untuk dunia. Agamanya bernama Islam (perdamaian sempurna).
Dia adalah tukang ikan. Sebagaimana Yunus yang muncul dari ikan setelah tiga hari, begitu pula
Muhammad keluar dari gua Tsur setelah tiga hari.
Ikatan rambutnya mencapai daun telinganya dan untaiannya hitam seperti burung gagak yang dibenarkan oleh Sulaiman (Kidung Agung 5:11). Untuk gambaran tertulis dari Nabi Suci kita, dari Sulaiman yang kita sayangi, silahkan menampilkan semua atribut dari ‘Horus’ dan anda akan menyadari bahwa ini semua adalah kehangatan serta keelokan dari Nabi Suci Muhammad s.a.w.


--------------------------------------------------------------------------------


1. Ini dinamakan tri-kal sandhya dalam kitab suci Hindu. Kita membaca dalam Weda: Udyate nam Udayte nama  dan seterusnya (Terpujilah dia ketika terbit dan ketika semakin naik! Terpujilah dia ketika dia sampai ke Puncaknya), Ath.,xvii, 22, 23. 


2. Primordial Man, hal.123.

3. Primordial Man, hal.32, The Book of the Dead, bab XVII.

4. Primordial Man, hal.205.

5. Primordial Man, hal.73.



 

0 komentar:

Best viewed on firefox 5+

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

Copyright © Design by Dadang Herdiana