Recent Posts

Senin, 05 September 2011

0 komentar

Paraclete Bukanlah Roh Kudus

Dalam artikel ini, kita dapat mendiskusikan sang “Paraclete” yang terkenal dari Injil Yohanes. Yesus dan Yohanes mengabarkan lahirnya Kerajaan Allah, mengajak umat untuk bertobat, dan membaptis mereka untuk pengampunan dosa-dosa mereka.


Yesus mengajarkan Injil yang berarti “berita baik” mengenai “Kerajaan Allah” dan sang “Pereiklitos” kepada para pengikutnya, tidak dalam catatan tertulis, melainkan dalam bentuk percakapan lisan dan khotbah. Khotbahnya Yesus ini kemudian disampaikan oleh mereka yang mendengarnya dan mengabarkan kepada orang yang belum mendengarnya. Kemudian ucapan-ucapan sang guru itu akhirnya ditulis oleh orang-orang.

Menurut Kristen, Yesus bukan lagi rabbi, tetapi Logos (firman Ilahi), ia bukan lagi Pelopor sang Paraclete, melainkan Pelopor Raja dan Pemimpinnya. Kata-katanya yang suci kemudian dipalsukan oleh tangan-tangan jahat dan dicampur dengan mitos dan legenda. Untuk sementara waktu ia diharapkan turun dari awan bersama pasukan malaikat. Para rasul semuanya sudah meninggal, kedatangan kedua Yesus ditunda. Pribadi dan ajarannya menyulut berbagai macam spekulasi keagamaan dan filsafat.

Sekte-sekte Kristen silih berganti. Kitab-kitab Injil dan Epistel-epistelnya dengan nama dan judul yang berbeda-beda muncul dibanyak pusat sekte Kristen, dan banyak sekali sarjana dan apologis Kristen saling memerangi dan mengkritik teorinya keagamaan mereka masing-masing. Seandainya Yesus menuliskan kitab Injilnya dan disahkan oleh para muridnya, tentulah integritas Injil akan baik sampai munculnya sang Periclyt (Ahmad).

Namun tidak seperti itu yang terjadi. Masing-masing penulis Injil memiliki pandangannya yang berbeda-beda mengenai sang guru (Yesus) dan agamanya, dan menggambarkan dia dalam kitabnya – yang ia beri nama Injil atau Epistel – sesuai dengan keyakinannya. Pikiran yang terbang membumbung tinggi tentang firman, nubuat sang Periclyt, dan serangkaian mukjizat, peristiwa, dan ucapan yang tercatat dalam Injil ke empat tidaklah dikenal oleh Sinoptik dan konsekuensinya oleh sebagian umat Kristen yang belum pernah melihatnya paling tidak selama 2 abad.

Injil ke empat pun, seperti setiap kitab lainnya dalam Perjanjian Lama, ditulis dalam bahasa Yunani dan tidak dalam bahasa Arami atau mungkin Yahudi (bahasa yang digunakan Yesus dan murid-muridnya). Konsekuensinya, kita lagi-lagi berhadapan dengan kesulitan sama yang sebelumnya kita hadapi ketika mendiskusikan “Eudokia” yakni: kata atau nama apakah yang digunakan Yesus dalam bahasa aslinya untuk mengungkapkan kata yang telah diterjemahkan Injil Yohanes sebagai sang “Paraclete” dan yang telah diubah menjadi “Penghibur” dalam semua versi Injil yang beredar sekarang ini?

Sebelum membicarakan etimologi dan pengertian dari bentuk Paraclete yang tidak klasik atau malah menyimpang ini maka kita perlu mengadakan observasi singkat terhadap satu segi tertentu dari Injil Yohanes.

Masalah siapakah pengarangnya dan keotentikan dari Injil Yohanes adalah persoalan yang menyangkut Higher Biblical Criticism (mengkritisi kitab suci Biblical). Pengarangnya apakah Yohanes anak Zebedee atau orang lain yang menggunakan nama itu, kelihatannya mengetahui doktrin dari sarjana dan filsuf yang bernama Philon, mengenai Logos (Firman).

Seperti kita ketahui bahwa penaklukan Palestina dan didirikannya kota Alexandria (di Mesir) oleh Alexander Yang Agung telah membuka untuk pertama kalinya suatu zaman budaya dan peradaban yang baru. Setelah itu, barulah murid-murid Musa bertemu dengan murid-murid Epicurus, dan terjadilah pengaruh hebat ajaran pagan Yunani kedalam doktin spiritual. Seni dan filsafat Yunani mulai dikagumi dan dikaji oleh doktor-doktor Yahudi baik di Palestina maupun di Mesir. Perembesan pemikiran Yunani dan belles-lettres [1] ke dalam sekolah-sekolah Yahudi membuat gusar para pendeta dan kalangan terpelajarnya.

Sebenarnya bangsa Yahudi begitu diabaikan sehingga kitab-kitab suci dibaca di Sinagog-sinagog kota Alexandria dalam versi Septuagint. Namun, invasi pengetahuan asing ini menggerakkan kaum Yahudi untuk melakukan kajian yang lebih baik mengenai hukum mereka sendiri, dan mempertahankan terhadap semangat baru yang tidak menguntungkan. Oleh karena itu, mereka berusaha keras untuk menemukan suatu metode baru penafsiran alkitab untuk memungkinkan dilakukannya pendekatan ulang dan rekonsiliasi kebenaran-kebenaran alkitab dengan pemikiran Hellenik (Yunani). Karena, metode pertama penafsiran hukum secara harfiah dirasakan tidak dapat dilaksanakan, dan terlalu lemah untuk bertahan dari pemikiran Plato dan Aristoteles yang tajam.

Pada saat yang sama, aktivitas-aktivitas kaum Yahudi yang kompak dan ketaatan mereka yang tinggi terhadap agama mereka seringkali memunculkan pada diri mereka sendiri rasa cemburu dan kebencian terhadap orang Yunani. Di masa Alexander Agung, seorang pendeta Mesir bernama Manetho menulis pencemaran nama dan fitnah-fitnah terhadap agama Yahudi. Di bawah Tiberius pun, orator besar Apion telah menyadarkan dan memasukkan penghinaan-penghinaan Manetho. Sehingga litreratur ini meracuni orang-orang yang kemudian dengan kejam menyiksa orang yang beriman pada satu Tuhan.

Maka metode baru pun ditemukan dan dipakai. Penafsiran Alegoris dari setiap hukum, aturan, tuturan, dan bahkan nama-nama tokoh terkemuka dianggap menyembunyikan didalamnya suatu gagasan rahasia yang berusaha diungkapkan metode baru itu. Penafsiran Alegoris ini segera merebut tempat di alkitab dan seperti sebuah amplop menyertakan didalamnya sistem filsafat keagamaan.

Nah, orang yang terkenal mengejawantahkan ilmu pengetahuan ini adalah Filon, yang lahir dari keluarga Yahudi kaya di kota Alexandria pada tahun 25 SM. Dengan benar-benar menguasai filsafat Plato, ia menulis karya alegorisnya dalam gaya Yunani yang murni dan selaras. Ia percaya bahwa doktrin-doktrin wahyu dapat disesuaikan dengan pengetahuan manusia dengan kearifan. Yang paling memenuhi pikirannya adalah fenomena hubungan Tuhan dengan makhluk-Nya. Mengikuti teori “Gagasan (idea)” nya Plato, ia menemukan serangkaian gagasan intermediasi yang disebut “emanasi-emanasi Ketuhanan” yang ia ubah menjadi segi-segi yang menyatukan Tuhan dengan dunia. Substansi pokok dari gagasan-gagasan ini, Logos (Firman), merupakan kearifan tertinggi dari perbuatan yang sudah ditakdirkan Tuhan (Providential action) .

Sekolah Alexandria mengikuti kemenangan agama Yahudi atas Paganisme. “Tetapi”, sebagaimana secara tepat dinyatakan oleh Grand-Rabin Paul Haguenaurer dalam buku kecilnya Manuel de litterature Juive (hal 24), “mais d'elle surgirent, plus tard, des susemes, nui sibles a l'hebraisme” sebenarnya sistem-sistem yang berbahaya tidak hanya bagi kaum Yahudi, tetapi juga bagi Kristen.

Asal mula doktrin Logos, karenanya harus ditelusuri ke teologi Filon dan pengarang Injil Yohanes (siapa pun itu namanya) hanya mendogmatisir teori “Gagasan” yang telah mandul pertama kali oleh otak cemerlang Plato. Sebagaimana dinyatakan dalam artikel pertama dari serial ini, firman Ilahi artinya firman Tuhan, dan bukan Tuhan yang firman. Kata merupakan atribut dari suatu wujud yang rasional. Ia berasal dari sang pembicara, tetapi ia bukanlah wujud yang rasional itu, yakni si pembicara. Firman Ilahi tidaklah abadi, ia mempunyai suatu asal, suatu permualaan, ia tidak ada sebelum permulaan itu, kecuali kemungkinan. Kata bukanlah hakikatnya.

Adalah suatu kesalahan yang serius mensubstansir setiap atribut apapun. Jika dibolehkan mengatakan “Tuhan yang firman”, mengapa mesti dilarang mengatakan, “Tuhan yang kuasa”, “Tuhan yang pengasih” ?

Saya dapat memahami dan menerima dengan baik julukan Yesus Ruhullah (Ruh Allah), Muhammad Rosululloh (Muhammad Rasul Allah). Tetapi saya tidak dapat pernah memahami ataupun menerima bahwa roh atau rasul adalah oknum Tuhan.

Sekarang kita akan melanjutkan dengan membuktikan dan membantah kekeliruan umat Kristen tentang Paraclete.

Dalam artikel ini saya akan mencoba membuktikan bahwa Paraclete itu bukan Holy Ghost (Roh Kudus) sebagaimana diyakini Gereja Kristen, juga sama sekali tidak berarti “penghibur” atau “perantara”. Dalam artikel berikut, insya Allah, saya akan menunjukkan bahwa bukan “Paraclete” melainkan yang benar adalah “Periclyte” yang secara persis berarti “Ahmad” yang artinya adalah “yang paling terkenal, terpuji, dan termasyur”.

Roh Kudus Digambarkan dalam Perjanjian Baru Sebagai suatu Kepribadian Yang Lain

Suatu pemeriksaan yang seksama mengenai pasal-pasal berikut dalam Perjanjian Baru akan meyakinkan para pembaca bahwa Roh Kudus bukanlah oknum Tuhan dari Trinitas.


Dalam Lukas 11:13 Roh Kudus dinyatakan sebagai “pemberian” Tuhan. Kontras antara “pemberian yang baik” yang diberikan oleh orang tua yang jahat dan Roh Kudus yang diberikan kepada orang beriman oleh Tuhan sama sekali meniadakan gagasan tentang suatu kepribadian dari Roh itu. Dapatkah kita secara sungguh-sungguh dan nyata-nyata menegaskan bahwa Yesus ketika ia membuat hal yang berlawanan diatas, bermaksud mengajarkan kepada pendengarnya bahwa “Tuhan Bapa” menghadiahkan “Tuhan Roh Kudus” kepada “anak-anak” duniawi-Nya ? Pernahkah ia menyinggung secara tidak langsung bahwa ia mempercayai oknum Tuhan ketiga Trinitas sebagai pemberian dari oknum Tuhan yang pertama Trinitas? Dapatkah kita percaya bahwa rasul mempercayai “pemberian” ini sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada makhluk hidup? Gagasan keyakinan itu membuat seorang muslim merasa ngeri!

 
Dalam 1 Korintus 2:12 (Injil karangan Paulus), Roh Kudus digambarkan dalam jenis netral “Roh dari Tuhan”. Paulus dengan jelas menyatakan bahwa sebagaimana Roh yang berada dalam diri manusia membuat manusia tahu hal-hal yang ada didalam dirinya, begitu pula Roh Tuhan membuat seorang manusia tahu hal-hal yang bersifat Ilahiah (1 Korintus 2:11). Konsekuensinya, Roh Kudus disini bukanlah Tuhan melainkan suatu hasil, saluran, atau medium melalui mana Tuhan mengajarkan, dan mengilhami orang. Jadi itu semata-mata perbuatan Tuhan pada manusia. Pemberi ilham tidaklah langsung sang Roh melainkan Tuhan sendiri. Paulus jelas-jelas mengemukakan dalam ayat diatas bahwa jiwa manusia tidak dapat melihat kebenaran-kebenaran tentang Tuhan tetapi hanya melalui Roh, ilham, dan petunjuk-Nya.

 
Dalam 1 Korintus 6:19 (Injil karangan Paulus)kita membaca bahwa hamba-hamba Tuhan yang shaleh disebut “Bait Roh Kudus yang mereka terima dari Tuhan”. Disini lagi-lagi Roh Tuhan tidak ditunjukkan sebagai suatu oknum (pribadi), melainkan kebajikan atau kuasa Tuhan. Tubuh dan jiwa seorang beriman dipersamakan dengan Bait yang diperuntukkan untuk menyembah Tuhan.

 
Dalam Epistel kepada bangsa Romawi (karangan Paulus, kitab Roma 8:9), Roh ini yang “hidup” didalam orang beriman disebut secara bergantian “Roh Allah” dan “Roh Kristus”. Dalam ayat ini “Roh” berarti keyakinan dan agama Tuhan yang dibawakan oleh Yesus. Tentu saja, Roh ini tidak dapat diartikan sebagai Roh Kudus idaman umat Kristen, yakni yang ketiga dari tiga tuhan.

 
Ucapan salam Injil, “Dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus”, seandainya asli dan benar-benar ditetapkan oleh Yesus, bisa saja secara sah diterima sebagai ungkapan keimanan sebelum berdirinya Islam secara resmi. Tuhan sebagai Pencipta adalah Bapak (dalam artian bukan biologis). Kaum Orientalis Kristen tahu bahwa kata Semit “Abb” atau “Abba” yang diterjemahkan sebagai “bapa”, berarti “orang yang melahirkan atau berbuah” (“ibba” =buah). Pengertian ini kata ini sudah cukup masuk akal dan penggunaannya cukup sah. Alkitab seringkali menggunakan sebutan “Bapa”. Tuhan dimanapun dalam alkitab, mengatakan “Israel adalah anakku yang pertama lahir”; dan ditempat lain dalam kitab Ayub, Tuhan dipanggil dengan sebutan “Bapak Hujan”. Namun dalam perkembangannya, istilah ini disalahgunakan oleh Paulus dan Gereja Trinitas. Namun tidak demikian dengan AL-Qur’an yang tidak menggunakan istilah ini.

seorang Monoteisme Sejati akan memandang bahwa dogma Trinitas yang menyatakan bahwa Tuhan melahirkan anak, adalah suatu penghinaan besar. Lantas apakah ucapan salam pembaptisan Kristen ini adalah asli ataukah palsu? Saya percaya bahwa para penginjil tidak pernah mengesahkan penggunaannya dalam ritual, doa, atau ibadah lain apapun, selain dalam pembaptisan. Poin ini sangatlah penting.

Yohanes telah meramalkan pembaptisan dengan Roh Kudus dan Api oleh nabi Muhammad, sebagaimana yang telah kita buktikan dalam pembahasan sebelumnya. Sang Pembaptisnya adalah Tuhan sendiri, dan perantaranya adalah Anak Manusia atau Barnasha menurut penglihatan Daniel, maka sangatlah benar dan sah menyebut dua nama itu sebagai sebab pertama dan kedua yang tepat guna, dan nama Roh Kudus pun, sebagai causa materialis dari Sibhghatullah. Sehingga kalau memang demikian halnya, maka sebutan Ilahiah “Bapa” sebelum disalahgunakan oleh Gereja, sudah tepat.

Sebenarnya Sibghatullah adalah suatu kelahiran dari Kerajaan Tuhan, yakni Islam. Sang Pembaptis yang menyebabkan kelahiran kembali (regenerasi) ini adalah Tuhan. Mengenai nama kedua dalam ucapan salam Kristen, “Anak”, kita tidak mengetahui siapa atau apa “anak” ini? Anak siapa? Jika Tuhan dengan tepat disebut “Bapa”, maka kita heran dan penasaran, yang mana saja “anak-anak”-Nya yang banyak sekali (dalam banyak ayat alkitab) itu yang dimaksud dalam salam pembaptisan.
Yesus mengajarkan kita untuk berdoa “Bapa kami yang ada di Surga”. Jika kita semua adalah anak-Nya dalam artian makhluk ciptaan-Nya, maka penyebutan kata “anak” dalam ucapan salam menjadi agak tidak berarti dan bahkan menggelikan. Kita tahu bahwa “Anak Manusia” atau Barnasha disebut sebanyak 83 kali dalam khotbah-khotbahnya Yesus.

Al-Qur’an tidak pernah menyebut Yesus sebagai Anak Manusia, melainkan “Anak Maria (Maryam)”. Ia tidak bisa menyebut dirinya “Anak Manusia” karena ia adalah hanya “anak seorang perawan”. Tidak mungkin melepaskan diri dari kenyataan itu. Anda bisa menjadikan “anak Tuhan” sebagaimana dengan kebodohan yang Anda lakukan, tetapi Anda tidak bisa menjadikannya “Anak Manusia” kalau Anda tidak mempercayainya sebagai keturunan Yusuf Si Tukang Kayu (yang menurut Bible adalah suami Maria), kalau Anda tidak mempercayainya sebagai keturunan biologis Yusuf Si Tukang Kayu.

Saya tidak tahu persis bagaimana, apakah melalui intuisi, ilham, atau mimpi, saya diajari dan diyakinkan bahwa nama kedua dalam ucapan salam itu adalh suatu interpolasi dari “Anak Manusia”, yang adalah Ahmad.

Adapun mengenai Roh Kudus dalam ucapan salam, ia bukanlah roh oknum atau individu, melainkan wakil, kekuatan energi Tuhan dengan mana seorang manusia dilahirkan atau masuk kedalam agama yang benar dan pengetahuan yang benar tentang Tuhan.




Apa kata Bapa-bapa Nasrani Awal Mengenai Roh Kudus?




Hermas (Similitude v, 5, 6) memahami "Roh Sudus" sebagai unsur suci yang ada dalam diri Yesus, yaitu Anak yang diciptakan sebelum semua hal. Tanpa memasuki pembicaraan yang tak berguna atau yang tak mempunyai arti apakah Hermas mencampur adukkan Roh Kudus dengan Firman, atau bahwa itu adalah suatu unsur berbeda milik Yesus, diakui bahwa firman diciptakan sebelum segala sesuatu - pada permulaan – dan Hermas memandang bahwa Roh bukanlah suatu oknum (prinbadi).

 
Justin - disebut "sang martir" (100?-167? M) dan Theophilus (120?-180?) memahami Roh Kudus kadang-kadang sebagai bentuk yang aneh atas perwujudan firman dan kadang-kadang sebagai atribut yang suci, tetapi tidak pernah sebagai seorang pribadi yang suci. Haruslah diingat bahwa dua orang Bapak dan Penulis Yunani dari abad kedua Masehi ini tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan yang pasti tentang Roh Kudus kaumTrinitas dari abad keempat dan seterusnya.

 
Athenagoras (110-180M) mengatakan Roh Kudus ialah sebuah pancaran Tuhan yang berasal dan kembali kepada-Nya seperti sinar matahari (Deprecatio pro Christiarus, ix, x.). Irenaeus (130?-202? M) mengatakan bahwa Roh Kudus dan Anak adalah dua hamba Tuhan dan bahwa malaikat tunduk kepada mereka. Jurang perbedaan yang lebar antara keyakinan dan konsep dari dua orang Bapa Nasrani pada masa awal tentang Roh Kudus ini jelas sekali membutuhkan ulasan lebih lanjut. Sangat Mengherankan bahwa dua orang hamba Tuhan itu kemudian harus diangkat pada derajat ketinggian Tuhan dan dua hamba Tuhan itu dinyatakan sederajat dengan Tuhan yang telah menciptakan kedua orang hamba-Nya itu.

 
Yang paling terkenal dan berpengetahuan tinggi dari semua Bapak Nasrani anti-Nicea dan apolis Kristen adalah Origen (185-254 M). Pengarang Hexepla menganggap kepribadian berasal dari Roh Kudus, tetapi menjadikannya pengikut sang Anak. Penciptaan Roh Kudus oleh sang Anak adalah tidak mungkin sekalipun pada permulaan ketika firman –atau Anak- diciptakan oleh Tuhan. Doktrin mengenai Roh Kudus ini tidak ditetapkan oleh Dewan Nicea. Hanya saja pada tahun 386 M dalam Dewan Gereja Konstantinopel kedua barulah dinyatakan sebagai oknum ketiga Tuhan dari Trinitas yang bersifat konsubstansial (memiliki sifat dan hakikat yang sama) dan sebaya dengan Bapa dan Anak.


“Paraclete” bukanlah “penghibur” atau “penolong”. Sebenarnya, ia sama sekali bukanlah sebuah kata klasik. Ortografi Yunani dari kata tersebut adalah Paraklytos yang dalam literatur Gereja diartikan sebagai “orang yang diminta untuk membantu, menyokong, memperantarai” ( Dict. Grec-Francais oleh Alexandre).

Kita tidak perlu mengaku sebagai seorang sarjana Yunani untuk mengetahui bahwa kata Ibrani untuk “penghibur” ( Comforter atau Conselor ) bukanlah “ Paraclytos ” atau “ Paracalon ”. Saya tidak memiliki Septuagint versi Yunani, tetapi saya ingat dengan baik bahwa kata Ibrani untuk “penghibur” (mnahem) dalam Ratapan Yeremia (1:2,9,16,17,21, dan seterusnya) diterjemahkan menjadi Parakaloon , dari kata Parakaloo , yang artinya adalah “memanggil, mengajak, mendesak, menghibur, berdoa, memohon.”

Perlu diketahui bahwa ada dua huruf vokal alpha yang panjang setelah konsonan kappa dalam “Paracalon” yang tidak ada dalam “Paraclytos” . Dalam ungkapan “Dia yang menghibur kita akan semua penderitaan kita” kata paracalon (dan bukan paraclytos ) digunakan. “Saya mendesak, atau mengajak, engkau untuk bekerja”.

Adapun mengenai arti lainnya dari “perantara” atau “penolong” yang diberikan oleh Gereja yakni “ paraclete” , sekali lagi saya menyatakan bahwa “ Paracalon” (bukan “ paraclytos” ) dapat membawa pengertian yang sama. Istilah Yunani yang benar untuk “penolong” adalah “Sunegorus” dan untuk “perantara” atau “mediator” adalah “meditea”.

Dalam artikel saya selanjutnya, saya akan memaparkan bentuk Yunani nya yang benar yang diselewengkan menjadi “Paraclytos”. Secara sambil lalu, saya ingin mengoreksi kesalahan dimana sarjana Perancis Ernest Renan pun ikut terperosok.

Jika saya mengingat kembali dengan baik, Monsier Renan, dalam karyanya yang terkenal The Life of Christ , menerjemahkan Paraclete Yohanes (14:16,26 dan 15:7 dan 1 Yohanes 2:1) sebagai “penolong”. Ia menyebutkan bahwa bentuk Syria-Khaldea “Paraklit ” sebagai lawan dari “Ktighra” (pendakwa) dari “Kategorus” . Nama Syria untuk mediator atau perantara adalah “mis'aaya” , tetapi dipengadilan-pengadilan “Snighra” (dari kata Yunani Sunegorus) digunakan untuk seorang pembela. Banyak orang Syria yang tidak mengenal bahasa Yunani menganggap “Paraqlita” sebagai bentuk bahasa Arami atau Syria dari “Paraclete” dalam versi Pshittha dan terbentuk dari Paraq (menyelamatkan diri, mengantarkan dari) dan “lita” (yang terkenal).

Pemikiran bahwa Yesus adalah “sang Juru Selamat dari kutukan sumpah”, dan karenanya dia sendiri pun “Paraqlita” (1 Yohanes 2:1), bisa membuat seseorang berpikir bahwa kata Yunani tersebut asalnya dari bahasa Arami, seperti kalimat Yunani “Maran atha” dalam bahasa Arami adalah “Maran Athi” , artinya Tuhan kita akan datang (1 Yohanes 16:22), yang nampak merupakan ungkapan ditengah kaum beriman mengenai kedatangan nabi besar terakhir. Maran Athi ini, dan khususnya ucapan salam pembaptisan, mengandung poin-poin yang terlalu penting untuk diabaikan. Keduanya patut mendapat kajian khusus dan penjelasan terperinci yang berharga. Keduanya memasukkan indikasi yang menguntungkan agama Kristen.

Saya pikir sudah cukup membuktikan bahwa “Paraclytos”, dari sudut pandang Linguistik dan etimologis, tidak berarti “penolong, penghibur, penenang, mediator”.

Kebodohan melibatkan banyak kesalahan. Selama berabad-abad bangsa Latin dan Eropa yang bodoh telah menulis nama Muhammad “Mahomet”, Musa “Moses”. Oleh karenanya, apakah sedikit mengherankan kalau pendeta atau penulis Kristen menuliskan nama sebenarnya dalam bentuk Paraclytos yang diselewengkan? Yang pertama berarti “yang paling terkenal, patut terpuji”. Tetapi bentuk yang telah diselewengkan sama sekali tidak berarti apa-apa selain rasa malu pada diri mereka yang selama 18 abad memahami kata itu dalam arti “penolong” atau “penghibur”.


--------------------------------------------------------------------------------


Catatan Kaki
[1] Belles-Lettres: Kepustakaan yang dihargai lebih karena nilai estetika daripada dialektika atau muatan informatifnya.


Sumber:
"Menguak Misteri Muhammad SAW", Benjamin Keldani, Sahara Publisher, Edisi Khusus Cetakan kesebelas Mei 2006

0 komentar:

Best viewed on firefox 5+

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

Copyright © Design by Dadang Herdiana