Recent Posts

Senin, 05 September 2011

0 komentar

Muhammad Adalah Sang "Anak Manusia"

Dalam artikel ini, marilah kita mengikuti kajian kita dengan sabar mengenai BARNASHA atau “sang Anak Manusia” yang dinaikkan ke atas awan menuju Yang Maha Tinggi, kepada siapa diberikan Sultaneh (Sholtana dalam teks aslinya yakni “dominion” atau kerajaan), kehormatan, dan ditugaskan untuk menghancurkan dan melenyapkan Kerajaan Si Tanduk yang mengerikan.
Sekarang marilah kita segera beralih mencari identitas Barnasha ini.

Sebelum mengetahui siapa Anak Manusia ini, sebaiknya kita mempertimbangkan terlebih dahulu poin-poin dan observasi berikut :
Ketika semua nabi-nabi keturunan Israel meramalkan bahwa “semua bangsa dan penduduk bumi akan melayaninya (yakni Anak Manusia/Barnasha) maka kita mesti memahami bahwa yang dimaksud adalah bangsa-bangsa yang disebutkan dalam Kitab Kejadian 15:18-21, dan bukan bangsa Inggris, Perancis, atau Cina.
 
Ungkapan “orang-orang suci Yang Maha Tinggi” dipahami artinya pertama kaum Yahudi dan kemudian Kaum Kristen yang mengakuan keesaan Tuhan yang mutlak, berjuang dan menderita untuk itu sampai munculnya sang Barnasha dan hancurnya Kerajaan Tanduk atau Kerajaan Binatang keempat.
 
Setelah penghancuran kerajaan Tanduk, maka bangsa-bangsa yang akan melayani para santo (orang kudus) adalah bangsa Khaldea, Medo-Persia, Yunani, dan Romawi (empat binatang buas yang digambarkan oleh Daniel pasal 7).
 
Memang luar biasa menyadari fakta penting bahwa Tuhan sering memperkenankan musuh-musuh agamaNya yang benar untuk menaklukan dan menyiksa umatNya karena dua tujuan: Pertama, karena Dia hendak menghukum umatNya oleh sebab bergelimang dosa. Kedua, karena Dia ingin menguji kesabaran dan membuktikan keimanan umatNya. Tuhan sendiri pada waktunya akan mengintervensi atas nama kaum beriman apabila eksistensi mereka berada di ujung tiangnya.

Sungguh saat yang mengerikan dan paling kritis bagi kaum Muslim ketika kekuatan yang bersekutu berada di Konstantinopel selama tahun-tahun gencatan senjata yang mengerikan itu. Persiapan besar-besaran dilakukan oleh bangsa Yunani untuk mengambil alih Masjid Aya Sophia. Ketika Patriarch Yunani dari Konstantinopel berangkat ke London dengan membawa jubah patriarkhal kuno yang indah dan bertahta mutiara dan permata untuk Uskup Agung Canterbury, yang sangat menganjurkan dilakukannya restorasi Konstantinopel dan gedung megah St. Sophia kepada Yunani.

Pada hari Isro dan Mi’roj, gedung sakral itu penuh sesak dengan orang-orang beriman yang berdo’a agar Allah Yang Maha Kuasa membebaskan Turki dan khususnya masjid itu dari orang-orang yang akan mengisinya dengan patung-patung dan gambar-gambar Yesus dan Maria, yang sangat tidak pantas diletakkan di rumah Tuhan.

Dalam kaitannya dengan mantel atau jubah patriarkhal itu, saya menulis sebuah artikel dalam koran Turki al-Aqsham, yang menunjukkan adanya perpecahan antara Gereja Ortodok Yunani dan Gereja Anglikan Protestan. Saya mengatakan bahwa jubah itu tidak dimaksudkan sebagai pallium (jubah kebesaran untuk Paus dan diberikan olehnya kepada Uskup Agung dan kadang-kadang kepada Uskup. Disebut juga “pall “) pentasbihan dan pengakuan ordo Anglikan, dan bahwa reuni diantara dua Gereja tidak dapat diwujudkan kalau salah satu pihak tidak menolak dan menanggalkan beberapa pasal keimanan yang dianggap bid’ah dan keliru. Saya juga menyatakan bahwa jubah itu adalah sogokan diplomatik atas nama negeri Yunani dan Gerejanya. Artikel tersebut diakhiri dengan tulisan sebagai berikut:

”Semuanya tergantung pada karamah dan keajaiban yang diharapkan muncul dari Bakhshish jubah kepausan ini”.

Hasilnya sudah terlalu pada tahu untuk diulang disini. Cukuplah dengan mengatakan bahwa sang patriarch meninggal di Inggris, dan Yang Maha Kuasa mengirim Barnasha untuk menghancurkan tanduk dan mengusir pasukan Romawi dari timur, memunculkan Mustafa Kemal (Presiden Turki Sekuler pertama yang menggusur Daulah Usmaniah. Ia adalah keturunan Yahudi) yang menyelamatkan negeri Turki dan memulihkan “kehormatan Islam”.
 
Harus dicatat bahwa bangsa Yahudi adalah umat pilihan Tuhan sampai kenabian Yesus. Di mata muslim, baik Yahudi maupun Kristen tidak berhak untuk mengklaim gelar “orang-orang suci Yang Maha Tinggi”, karena umat Yahudi sama sekali menolak Yesus, sedangkan umat Kristen menghina Yesus dengan menuhankannya. Selain itu, dua-duanya sama sekali tidak patut mendapat gelar itu karena penolakan mereka untuk mengakui nabi Muhammad sebagai nabi terakhir yang menutup daftar para nabi.

Sekarang marilah kita melanjutkan pemuktian bahwa Barnasha (anak manusia) yang dinubuatkan oleh Perjanjian Lama dan diberi kekuatan untuk menghancurkan kerajaan Bintang keempat (Romawi) adalah Muhamamd. Apapun alasan Anda yang mencabut gelar “Anak Manusia” pada diri nabi Muhammad, maka Anda hanya akan membuat diri Anda seperti orang gila, dikarenakan alasan berikut:


Kita tahu bahwa agama Yahudi maupun Kristen tidak mempunyai nama tertentu untuk keyakinan dan sistemnya. Artinya baik kaum Yahudi maupun Kristen tidak mempunyai nama spesial untuk doktrin keyakinan mereka. “Yudaisme” dan “Kristianitas” adalah nama yang tidak berdasarkan kitab suci juga tidak disahkan oleh Tuhan ataupun pendiri agama itu!

Sesungguhnya sebuah agama, jika benar, tidak bisa diberi nama menurut pendiri keduanya, karena pengarang dan pendiri sejati dari sebuah agama yang benar adalah Tuhan. Dan bukan seorang nabi.

Nah kata benda nama diri untuk hukum, keimanan, dan praktek ibadah sebagaimana difirmankan Allah kepada Muhammad adalah “Islam”,. Yang artinya “menciptakan kedamaian” antara Tuhan Sang Pencipta, manusia, dan alam semesta. “Muhamadanisme” bukanlah sebutan yang tepat untuk Islam. Karena Muhammad sendiri, seperti nabi Ibrahim dan semua nabi-nabi yang lain adalah seorang muslim, dan bukan agama Muhamadanisme, Yudaisme, apalagi Kristiani.

Islam adalah “pengadilan perdamaian”, karena ia memiliki kitab hukum otentik dengan mana keadilan dijalankan dan ketidakadilan dihukum. Kebenaran dihormati dan kesalahan dikutuk. Dan yang terpenting keesaan Tuhan, pahala yang kekal untuk perbuatan jahat dengan jelas dinyatakan dan ditetapkan.

Dalam bahasa Inggris, seorang hakim disebut “justice of peace” , artinya “hakim perdamaian”. Nah ini meniru hakim muslim yang menyelesaikan suatu sengketa dengan menghukum orang bersalah dan memberi pahala orang yang benar, sehingga memulihkan kedamaian. Inilah Islam dan Hukum al-Qur’an. Bukan Kristen dengan Biblenya, karena Kristen secara mutlak melarang seseorang mengadu kepada seorang hakim, betapa pun tidak bersalah dan zalimnya dia (Matius 5:25-26).

 
“Anak Manusia” atau Barnasha itu pastilah Muhammad. Karena ia datang setelah Konstantin. Dan tidak sebelumnya sebagaimana Yesus atau nabi lainnya.

Tidak ada yang lebih bodoh daripada pendapat bahwa Yudas sang Maccabaeus adalah Barnasha yang berada diatas awan, dan si Tanduk adalah Antiochus. Diduga keras bahwa -jika saya tidak salah – Antiochus setelah menodai Bait Yerusalem, hidup hanya tiga setengah tahun –atau tiga setengah hari- yang pada akhirnya ia lenyap.

Pertama kita tahu bahwa Antiochus adalah pengganti Alexander Yang Agung dan raja Syria. Konsekuensinya, adalah satu dari empat kepala singa bersayap dan bukan Tanduk kesebelas dari empat binatang buas tersebut.

Pada pasal kedelapan kitab Daniel. Domba jantan dan kambing jantan dijelaskan oleh seorang santo sebagai berturut-turut merepresentasikan Kerajaan Persia dan Kerajaan Yunani. Secara singkat dijelaskan bahwa kerajaan Yunani dengan segera menggantikan kekaisaran Persia dan bahwa Kerajaan Yunani terbagi dalam empat kerajaan, ini sebagaimana dikatakan dalam penglihatan pertama.

Kedua, Tanduk yang berbicara menunjukkan bahwa orang yang menghina dan mengubah hukum dan hari-hari suci tidak mungkin seorang pagan (penyembah berhala), melainkan orang yang mengenal Tuhan dan secara sengaja menyekutukan Dia dengan dua makhluk ciptaanNya. Aniochus tidak merusak agama Yahudi dengan cara melembagakan Trinitas atau pluralitas Tuhan, juga tidak mengubah Hukum Musa dan hari-hari rayanya.

Ketiga, sungguh kekanak-kanakan kalau membesar-besarkan dan mementingkan peristiwa-peristiwa lokal yang tidak berarti yang terjadi diantara raja rendahan di Syria dan kaum Yahudi yang picik, untuk membandingkan kepala kaum Yahudi yang picik dengan manusia agung yang menerima penghormatan dari jutaan malaikat dihadapan Yang Maha Tinggi.

 
Juga sia-sia mengklaim kehormatan langit yang diberikan kepada Anak Manusia ini sebagai kehormatan untuk Yesus. Ada dua alasan utama untuk meniadakan Yesus dari kehormatan ini:


Jika Yesus benar-benar manusia dan nabi, dan jika kita menganggap karyanya berhasil atau gagal, maka sudah pasti ia jauh dibelakang Muhammad. Tetapi jika ia diyakini sebagai yang ketiga dari Trinitas, maka Yesus sama sekali bukan dari golongan manusia. Anda jatuh dalam sebuah dilema yang tidak dapat diambil jalan keluarnya, karena bagaimanapun Barnasha tidak mungkin adalah Yesus.
 
Jika Yesus diperintahkan untuk menghancurkan Binatang Keempat, maka tentulah ia bukannya membayar pajak untuk mendapat hak memilih (poll-tax) ayau upeti kepada Kaisar dan memasrahkan dirinya dipukuli atau dicemeti oleh Pilatus. Ia seharusnya mengusir pasukan Romawi dari Palestina dan menyelamatkan kaumnya.
 
Tidak pernah hidup diatas bumi ini seorang pangeran atau nabi seperti Muhammad, yang termasuk anggota dinasti yang berkuasa selama sekitar 2500 tahun dan benar-benar merdeka serta tidak pernah menundukkan kepalanya dibawah penindasan asing. Mustahil membayangkan manusia lain yang begitu bermartabat dan pantas seperti Muhammad untuk mendapat keagungan dan penghormatan yang luar biasa sebagaimana yang digambarkan dalam penglihatan Daniel. Dan tidak lah heran kalau nabi Daud memanggil Muhammad “Tuanku” (Mazmur 110:1).
 
Tidak heran kalau pada perjalanan malam (Mi’roj nabi Muhammad) ke langit, Muhammad diterima dengan penghormatan tertinggi oleh Yang Maha Kuasa dan diberi kekuasaan untuk memberantas pemujaaan berhala dan si tanduk yang menghina Tuhan dari negeri-negeri yang dijanjikan Tuhan kepada umatnya sebagai warisan abadi.
 
Segi lain yang palin menakjubkan dalam penglihatan kenabian ini, menurut keyakinan saya yang sederhana, adalah bahwa terlihatnya Anak Manusia diatas awan, dan kehadirannya dihadapan Yang Maha Kuasa persis sama cerita Mi’roj (perjalanan malam nabi Muhammad dari Bait Yerusalem ke sidrotul Muntaha). Dengan kata lain, bagian kedua dari penglihatan Daniel diidentifikasi dengn peristiwa Mi’roj Nabi Muhammad.

Sesungguhnya ada beberapa indikasi baik dalam bahasa Daniel maupun dalam Hadis yang membawa saya kepada keyakinan ini. Al-Qur'an menyatakan bahwa selama perjalanan malam itu, Tuhan memperjalankan hambaNya dari Masjid Haram di Mekkah ke Masjid al-Aqsha di Yerusalem. Dan dari Yerusalem nabi berangkat ke langit Sidrotul Muntaha. Tuhan memberkati daerah-daerah disekeliling bait itu, kemudian menjadi puing-puing, dan menunjukkan kepadanya tanda-tandaNya (Daniel 9:17).

Diceritakan oleh nabi suci bahwa Bait Yerusalem, ia memimpin dalam kapasitasnya sebagai imam dalam melaksanakan sholat bersama-sama dengan para nabi yang mengikutinya. Lebih jauh diceritakan bahwa dari Yerusalemlah beliau dinaikkan ke langit ke tujuh dengan ditemani oleh roh-roh para nabi dan malaikat sampai beliau tiba dihadapan Tuhan. Kerendahan hati nabi yang mencegah beliau untuk menceritakan semua yang dilihatnya dan diterimanya dari Allah.

Nampaknya roh yang menafsirkan penglihatan itu kepada Daniel bukanlah seorang malaikat, sebagaimana saya katakan tanpa dipikir lagi ditempat lain, melainkan roh atau jiwa seorang nabi, karena ia menyebut “Qaddish” (dalam jenis laki-laki) dan “Qaddush” (4:10 dan 8:13), yang artinya santo atau orang suci –nama yang sangat lazim untuk nabi dan orang suci. Betapa senangnya roh-roh suci para nabi dan para syuhada yang telah disiksa oleh empat binatang buas itu, lebih-lebih ketika mereka mengetahui hukuman mati dijatuhkan oleh Yang Maha Tinggi terhadap rejim Trinitasnya Konstantin, dan nabi penutup diperintahkan untuk melenyapkan kerajaan Tanduk (Romawi).

Juga harus diingat bahwa penglihatan ini dilihat juga pada malam yang sama ketik berlangsung perjalanan sang Barnasha dari Mekkah-Yerusalem-langit.

Berdasarkan kesaksian Daniel, kita sebagai muslim harus mengakui bahwa perjalanan Muhammad dilakukan secara jasmaniah –suatu hal yang tidak mustahil bagi Yang Maha Kuasa.

Paulus juga menyebutkan sebuah penglihatan yang ia lihat empat belas tahun sebelumnya dari seseorang yang telah ia angkat ke langit ketiga dan kemudian ke surga, dimana ia mendengar dan menyaksikan kata-kata dan objek-objek yang tidak bisa dijelaskan. Gereja dan ahli tafsirnya meyakini orang ini sebagai Paulus sendiri. Meskipun bahasa itu sedemikian rupa memberikan kepada kita ide bahwa dia sendirilah orang itu, namun karena kerendahan hati ia merahasiakannya agar ia tidak dianggap orang sombong (2 Korintus 12:1-4).

Meskipun Al-Qur'an mengajarkan kita bahwa rasul-rasul (murid) Yesus adalah orang suci dan bersemangat. Namun, tulisan-tulisan mereka tidak bisa dipercaya, karena Gereja-gereja yang cekcok dan saling berbantahan telah menjadikan tulisan-tulisan itu sebagai sasaran berbagai penyisipan atau penambahan. Injil Barnabas menyatakan bahwa Paulus kemudian jatuh kedalam kesalahan dan menyesatkan kaum beriman (Barnabas pasal 222).

Bahwa Paulus tidak mengungkapkan identitas orang yang dilihat dalam penglihatan itu, dan bahwa kata-kata yang ia dengar di surga “tidak terkatakan dan tidak seorang manusia pun boleh mengucapkannya”, menunjukkan bahwa Paulus sendiri bukanlah orang yang dinaikkan ke surga. Mengatakan bahwa Paulus, karena alasan kerendahan hati dan kesopanan, tidak memuji diri sendiri adalah benar-benar kesalahan dalam menggambarkan siapa Paulus sebenarnya. Ia menyombongkan diri telah memarahi St. Petrus secara terang-terangan, dan surat-surat (epistle) yang ditulis penuh dengan ungkapan-ungkapan tentang dirinya sendiri yang benar-benar menegaskan bahwa Paulus adalah bukan orang yang rendah hati dan sopan.

Disamping itu, kita tahu dari tulisan-tulisannya kepada orang Romawi dan Galatia betapa ia orang Yahudi yang menghinakan Hajar dan bani Ismail. Manusia agung yang ia lihat dalam penglihatannya bisa jadi tak lain adalah orang yang dilihat oleh Daniel. Muhammad lah yang ia lihat, dan tidak berani melaporkan kata-kata yang tidak diucapkan kepadanya oleh Tuhan karena disatu pihak ia takut pada orang Yahudi, dan dilain pihak menentang dirinya sendiri karena telah mengagungkan dirinya sendiri sedemikian rupa dengan salib dan yang disalib.

Sebagai kesimpulan, izinkanlah saya mengambil teladan untuk umat nonMuslim dari penglihatan Daniel yang menakjubkan itu. Hendaklah umat NonMuslim mencamkan pelajaran dari nasib empat binatang buas, khususnya si Tanduk dan merenungkan bahwa Allah saja Tuhan Yang Sejati.

Sumber:
"Menguak Misteri Muhammad SAW", Benjamin Keldani, Sahara Publisher, Edisi Khusus Cetakan kesebelas Mei 2006

0 komentar:

Best viewed on firefox 5+

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

Copyright © Design by Dadang Herdiana